Laman

Rabu, 16 Juni 2010

Pendidikan Ketamansiswaan

PENDIDIKAN BERBASIS PROSES :
Albert Einstein dan Ki Hadjar Dewantara

Oleh : Ki Sugeng Subagya

Apa persamaan antara Albert Einstein dan Ki Hadjar Dewantara ? Pertanyaan itu disampaikan oleh seorang akademisi bergelar Ph.D lulusan USA kepada penulis dalam sebuah forum diskusi terbatas sesaat setelah UN SMP tahun 2010 berakhir beberapa hari lalu.

Untuk menjawab pertanyaan itu, penulis agak kesulitan. Tentang Ki Hadjar Dewantara, penulis sedikit banyak tahu riwayat hidup dan kiprahnya dari membaca berbagai sumber dan informasi dari para sesepuh Tamansiswa. Nah, tentang Albert Einstein yang ilmuwan IPA hebat itu ? Penulis hanya tahu bahwa ia penemu Teori Relativitas dari pelajaran IPA ketika di SMP dulu. Atas keterbatasan pengetahuan itu, penulis mencoba berpikir keras (dalam Bahasa Jawanya ngulir budi). Berhasilkah menemukan jawaban ? Tidak.

Awal bulan April 2010, bertepatan dengan libur Paskah, secara tidak sengaja, penulis bertemu kembali dengan akademisi itu. Meskipun dengan nada yang lebih ringan, ditanyakan kembali apa persamaan Ki Hadjar Dewantara dan Albert Einstein. Kalimat pertanyaannya begini : “Mas, nggak usahlah ngaku jadi orang Tamansiswa jika belum mampu menjawab pertanyaan saya yang tempo hari itu ? Untuk membantu Mas Sugeng menemukan jawabannya, nih tak kasih tulisan tentang riwayat hidup Einstein dan pandangannya terhadap pendidikan.”

Didorong oleh kesungguhan untuk menemukan jawaban, penulis dalam waktu tidak lebih dari 2 kali 45 menit telah dapat membaca keseluruhan teks yang diberikan dan tentu isinya telah difahami. Dari situlah, penulis tahu bahwa Albert Einstein lahir di Ulm, Jerman pada tanggal 14 Maret 1879. Di kala muda tidak termasuk anak pintar, bahkan cenderung agak lambat dalam memahami matapelajaran Matematika. Tidak salah jika dikategorikan dalam kelompok anak bandel cenderung nakal. Memasuki dunia kerja tidak begitu serius. Di kantor lebih suka lonthang-lanthung bergaya sok intelek.

Keadaannya bagai berputar terbalik 180 derajat ketika menginjak usia dewasa. Bakatnya mulai tampak teraktualisasi. Kecerdasan dan kemampuannya mencuat seiring dengan kegemarannya merenung filsafat dan berpikir ilmiah. Dalam waktu yang tidak terlalu lama namanya dikenal luas di kalangan akademis oleh karena karya-karyanya. Tidak mengherankan jika pada tahun 1921, Albert Einstein memperoleh hadiah Nobel dalam bidang Riset.

Dari catatan itu pula penulis tahu, bahwa sesusungguhnya tidak hanya teori relativitas yang dikembangkan Alber Einstein. Ia juga menelaah secara mendalam teori efek fotolistrik, teori kuantum cahaya, mekanika kuntum, dan banyak lagi teori-teori fisika lainnya. Menakjubkan. Ternyata ia juga menulis tentang kebudayaan, kemanusiaan, seni, dan religi. Tentang kebudayaan, kemanusiaan, seni, dan religi inilah yang membawa Albert Einstein ke dalam suatu pemahaman bahwa hidup itu bersama dengan sesama, baik manusia maupun alam semesta.

Albert Einstein mengembangkan ilmu kimia, terutama energi nuklir. Berkat Einstein, energi nuklir merupakan kekuatan yang sangat dahsyat. Meskipun demikian, kekuatan yang dahsyat itu akan menghancurkan hidup dan kehidupan alam semesta jika tidak dikelola dengan bijak. Oleh karena itu Einstein berada dalam barisan yang paling depan sigap tiada henti-hentinya tak kenal lelah mengecam pemakaian teknologi nuklir dalam perang. Kedahsyatan energi nuklir tidak pada tempatnya untuk instrumen pembunuh dan penghancuran kehidupan. Energi nuklir justeru akan bermanfaat jika dipergunakan untuk tujuan damai dan kesejahteraan umat manusia.

Meskipun ia seorang intelektual, tetapi ternyata tidak intelektualistis. Meskipun ia seorang ilmuwan besar dunia, tetapi juga suka membaca puisi dan mengamalkan do’a-do’a. Sikap dan perilakunya selalu rendah hati, jika marah hanya tampak dalam diam. Menegur orang jarang menyakiti, sebab lebih memilih kata-kata sindiran daripada menohok di depan mata. Meja dan kamar kerjanya penuh kertas berserakan, itulah cara mengekspresikan kreatifitas dan inovasinya. Di balik itu semua, sesungguhnya Einstein adalah sosok yang hatinya lembut dan luwes penampilannya.

Karya besar yang monumental ditinggalkan Albert Einstein ketika pada tanggal 18 April 1955 meninggal dunia. Meski ilmuwan besar dunia, ia meninggal tidak di negeri tanah kelahirannya, Jerman. Sebagai akibat kekejaman rezim penguasa Hitler, Albert Einstein terpaksa “hijrah” ke USA.

Satu hal, secara khusus Albert Einstein memandang pendidikan bukan sebagai produk semata. Ia lebih suka jika pendidikan didominasi oleh proses, karena dengan demikian jika prosesnya baik maka hasilnya dapat diharapkan lebih baik.

Pembelajaran sebagai bagian pendidikan tidak bisa dipatok kaku. Terlebih jika orientasinya adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Sesungguhnya, kebenaran dalam pendidikan itu dibangun dalam kerangka dialektika keilmuan. Satu kebenaran akan terbantahkan oleh kebenaran yang lainnya. Demikian selanjutnya, sehingga kebenaran yang hakiki itu tidak terletak pada hasil, melainkan pada proses.

Sekolah, bagi Albert Einstein tridak sekadar mekanik penyampai segumpal pengetahuan. Pengetahuan itu barang mati, jika diterima apa adanya, maka akan terus matilah ia. Agar pengetahuan tidak terus mati, maka sekolah harus mampu memekarkan diri peserta didik untuk berpikir dialektis. Manusia yang sedang belajar itu bukan sedang menjalankan fungsinya seperti “baut” yang bertugas mengaitkan dua buah komponen atau lebih. Tetapi ia adalah pribadi. Ia adalah subyek atau pelaku.

Sebagai subyek, secara lahiriah ia berbuat. Secara batiniah, ia merenung, berpikir, menggagas, dan merasakan sesuatu. Itulah sesungguhnya aktifitas subyek yang nampak dalam interpretasi terhadap berbagai soal kehidupan dan masyarakat. Karena itu, dengan alasan apapun, jangan dicabut pribadi-pribadi peserta didik dari akar budayanya.

Secara tegas di tahun 1950, Albert Einstein mewajibkan sekolah harus mampu menghidupkan peserta didik. Oleh sebab pribadi peserta didik tidak dapat diukir oleh kata yang terucap dan didengar, tetapi juga dengan perbuatan. Demikian halnya, cita-cita luhur tidak dapat dicapai hanya dengan ungkapan kata-kata atau tulisan, tetapi berbuat untuk mencapai cita-cita itu lebih realistis.

Ketemu Jawabannya
Nah, dari membaca riwayat hidup dan pandangan Albert Einstein tentang pendidikan di atas, penulis dapat temukan jawaban pertanyaan tentang apa persamaan Albert Einstein dan Ki Hadjar Dewantara. Ialah, pandangannya tentang pendidikan berbasis proses.

Sekadar mengingatkan kita semua, menurut Ki Hadjar Dewantara, hakikat belajar sebagai proses itu adalah niteni, nirokke, dan nambahi. Oleh sebab itu, sekolah tidak boleh mengajarkan pengetahuan semata, tetapi harus membelajarkan siswa untuk mengembangkan dirinya. Guru seharusnya meninggalkan aktifitas mengajar, tetapi tugasnya adalah membelajarkan peserta didik. Peserta didik didorong untuk belajar menemukan sendiri atas hal-hal yang berfaedah bagi hidup dan kehidupannya. Itulah makna hakiki dari statemen Ki Hadjar Dewantara yang mengakatan; “pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidup lahir, sedangkan merdekanya batin didapat dari pendidikan”

Entah secara kebetulan atau tidak, ternyata antara Albert Einstein dan Ki Hadjar Dewantara juga memiliki persamaan yang lain. Diantaranya, ialah :
1. Beliau hidup sebagai generasi satu angkatan, kelahirannya hanya terpaut satu dasawarsa. Albert Einstein lahir pada tanggal 14 Maret 1879, sedangkan Ki Hadjar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mai 1889.
2. Semasa hidupnya merasa tidak nyaman atas keadaan negerinya sendiri oleh karena kekuasaan pemerintahan yang otoriter. Albert Einstein ditekan oleh kekuasaan Hitler dan kemudian hengkang ke USA, Ki Hadjar Dewantara ditekan oleh kekuasaan kolonial Belanda dan pernah dibuang ke negeri Belanda.
3. Keduanya meninggal pada bulan April. Albert Einstein meninggal pada tanggal 18 April 1955 sedangkan Ki Hadjar Dewantara meninggal pada tanggal 26 April 1959.

Jika pada saat ini, kita sedang membaca Majalah SISWA kesayangan kita ini, sekadar mengingat dan mengenang kembali kedua tokoh besar ini tepat pada bulan meninggalnya, dengan maksud memetik suri tauladannya. Selain itu, tentu mengenang orang besar tidak ada salahnya, terlebih jika kita memiliki kemauan yang keras untuk meneruskan cita-citanya. Semoga.-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar