Laman

Senin, 01 Maret 2010

Pendidikan Ketamansiswaan



Hakikat Belajar :

Niteni, Nirokke, dan Nambahi

Oleh : Ki Sugeng Subagya


Seringkali kita mendengar pertanyaan di sekitar kita. Mengajar apa bu ? Mengajar di mana Pak ? Jawabnya; Ibu mengajar Bahasa Indonesia. Bapak mengajar di SMP Tamansiswa Jakarta.


Jika dicermati, antara pertanyaan dan jawaban tentang mengajar di atas, konotasinya tugas guru adalah mengajar. Sedangkan siswa diajar. Dalam hal ini berarti guru berkedudukan sebagai subyek, sedang siswa sebagai obyek.


Sebagai subyek, aktifitas guru lebih dominan dibandingkan siswa. Akibatnya komunikasi dalam pembelajaran kebanyakan terjadi hanya satu arah, ialah dari guru ke siswa. Guru mengajar, bukan membelajarkan siswa. Materi pelajaran berupa “bahan jadi” yang disiapkan guru, siswa tinggal menerimanya. Pendek kata, dalam pembelajaran guru aktif, sedang siswa pasif.


Sesungguhnya, belajar itu hakikatnya dapat ditelusur dari dua aspek. Ialah belajar sebagai proses, dan belajar sebagai produk atau hasil. Menurut Ki Hadjar Dewantara, dalam proses belajar siswa harus mengimplementasikan potensi dengan cara “niteni”, “nirokke”, dan “nambahi”. Niteni adalah upaya mencari kejelasan dari suatu peristiwa atau keadaan melalui pengamatan secara jeli dan mendalam. Nirokke adalah aktifitas menirukan dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan dalam bentuk contoh atau teladan yang baik. Sedangkan nambahi adalah suatu aktifitas melengkapi melalui inovasi dan kreatifitas sehingga menimbulkan hal-hal yang baru.


Konsep niteni, nirokke, dan nambahi dalam implementasinya bukan merupakan hal yang dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Satu hal tidak mendahukui hal yang lain. Melainkan ketiganya integral dalam satu aktifitas sehingga menghasilkan pengetahuan dan keterampilan yang utuh.


Jika cara niteni, nirokke dan nambahi diimplementasikan dalam pembelajaran, maka instruksional dalam pengertian penagajaran harus ditinggalkan dan beralih pada pembelajaran. Artinya guru harus membelajarkan siswa, sehingga siswa sendiri yang harus belajar.


Dalam pembelajaran, kelas tidak boleh didominasi oleh guru. Siswa harus aktif mempelajari sesuatu bukan atas bahan jadi yang dipersiapkan guru, melainkan mencari sendiri apa yang ingin diketahui dan dikuasainya.


Bagaimana Penerapannya ?

Berikut adalah beberapa hal yang harus ditinggalkan agar pembelajaran kreatif inovatif sebagaimana konsepsi niteni, nirokke, dan nambahi berhasil efektif. Cara-cara pembelajaran berikut ini dilakukan sekarang ini.

1. Jarang sekali guru bertanya yang sifatnya pengembangan kreativitas, soal jarang sekali menggunakan kata mengapa, bagaimana, darimana, selidiki, temukan, atau generalisasikan. Jadi sekolah tak ubahnya seperti tempat pelatihan.

2. Untuk mengikuti pelajaran di sekolah, kebanyakan siswa tidak siap terlebih dulu dengan membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan.

3. Siswa dan bahkan guru, tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya. Mereka hanya memandang bahwa belajar adalah suatu kewajiban yang dipikul atas perintah orang tua, guru, dan lingkungannya. Belum memandang belajar sebagai suatu kebutuhan.

4. Pelaksanan kegiatan di kelas guru masih melaksanakan proses pengajaran secara klasikal. Istilah klasikal bisa diartikan sebagai secara klasik yang menyatakan bahwa kondisi yang sudah lama terjadi, bisa juga diartikan sebagai bersifat kelas. Jadi pembelajaran klasikal berarti pembelajaran konvensional yang biasa dilakukan di kelas selama ini, yaitu pembelajaran yang memandang siswa berkemampuan tidak berbeda sehingga mereka mendapat pelajaran secara bersama, dengan cara yang sama dalam satu kelas sekaligus. Ibarat murid memakai pakain seragam dengan ukuran yang sama. Model yang digunakan adalah pembelajaran langsung (direct learning). Pembelajaran klasikal tidak berarti jelek, tergantung proses kegiatan yang dilaksanakan, yaitu apakah semua siswa berartisipasi secara aktif terlibat dalam pembelajaran, atau pasif tidak terlibat, atau hanya mendengar, menonton, dan mencatat.

5. Siswa masih jarang berkesempatan untuk berdiskusi, presentasi, berkreasi, bernalar, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan berkolaborasi. Hal ini disebabkan pola yang dipakai masih mengajar bukan membelajarkan siswa. Pola mengajar yang diterapkan oleh guru bisa cocok bagi siswa yang terbiasa pasif, untuk membentuk generasi penerus yang penurut dan menjadi tukang, yaitu orang-orang yang tinggal menunggu tugas dari dunungan (atasan), misalnya tukang sapu dan tukang kuli. Di lain pihak, banyak siswa yang masih belum berani dan terbiasa beraktivitas, kebanyakan masih takut salah untuk bertanya, menjawab, berkomentar, mencoba, atau mengemukakan ide.

6. Mereka masih sangsi apakah keberanian akan melanggar etika hormat kepada guru, karena di lingkungan keluargapun banyak bicara itu bisa dimarahi. Mereka masih takut akan kesalahan karena biasanya akan mendapat teguran atau bentakan, ada rasa tidak aman dalam belajar. Pada pihak guru pun, masih banyak guru yang merasa kurang nyaman jika siswa banyak bicara, merasa kuang senang bila siswa banyak bertanya dan berkomentar, memandang kurang sopan jika siswa banyak bertingkah, dan semacamnya. Apalagi jika siswa berbuat salah (bertanya, menjawab, mengerjakan) biasanya lansung divonis tidak menyenangkan.

7. Masih banyak guru yang belum menyadari bahwa kesalahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari belajar, kesalahan sebagai indikasi bahwa siswa berpartisipasi, antusias, perhatian, motivasi, berpikir, mencoba, menggali (eksplorasi), tetapi karena kemampuan dan pemahaman siswa masih kurang dan terbatas maka muncullah kesalahan itu. Guru belum menghargai kesalahan siswa tersebut karena belum bisa membelajarkan siswa dengan suasana nyaman dan menyenangkan.

· Ki Sugeng Subagya,

Pamong Ibu Pawiyatan Tamansiswa


Artikel ini dimuat Majalah SISWA Nusantara, Edisi Februari 2010.


1 komentar: