Laman

Selasa, 02 Maret 2010

Nasionalisme


Kearifan Membaca Pesan Teroris

Oleh : KI SUGENG SUBAGYA

Ada pesan yang disampaikan dalam aksi teror. Meskipun pesan yang menjadi tujuan akhir teroris belum tentu terwujud dalam suatu aksi teror, tetapi pesan-pesan lain yang menyertainya sangat terasa dampaknya. Pesan lain ini tidak kalah menyeramkannya daripada pesan yang sesungguhnya.

Pemboman hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta, diekspose media massa keseluruh penjuru dunia. Tidak ada secuil bagian dunia ini yang tidak mengetahui bahwa Indonesia sedang mengalami masalah keamanan. Tidak jarang kesan yang dimunculkan lebih dari itu. Indonesia dalam keadaan in-stabilitas politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan bahkan ideologi. Inilah salah satu pesan sampingan teroris yang diinginkan.

Batalnya pertandingan persahabatan kesebelasan Manchaster United (MU) melawan Indonesia All Stars di Jakarta dan Travel warning beberapa negara kepada warga negaranya agar menunda kunjungannya ke Indonesia merupakan indikasi tidak terjaminnya keamanan yang dipicu oleh aksi terorisme itu. Sungguh, keadaan yang demikian sangat merugikan Indonesia sebagai bangsa.

Patut disayangkan, dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, tidak sedikit perilaku pemimpin bangsa ini malah cenderung memperkeruh suasana. Adu pernyataan pers bagai berbalas pantun yang dapat ditafsirkan sebagai saling tuduh yang tidak hanya meresahkan, tetapi juga mengkhawatirkan. Barangkali inilah pesan teroris juga yang harus ditangkap dengan arif. Bukan tidak mungkin konflik para pemimpin sengaja diciptakan untuk membinasakan Indonesia sebagai bangsa.

Bersatu Melawan Terorisme
Masalah terorisme adalah masalah bangsa. Setiap komponen bangsa, baik kelompok maupun perorangan, yang menyatakan bahwa dirinya adalah bagian bangsa Indonesia mempunyai tanggungjawab yang sama melawan terorisme. Tidak ada alasan untuk menolak bersatu melawan terorisme.

Dalam situasi seperti ini tidak ada lagi komitmen yang paling pas kecuali kebulatan tekad, bersatunya niat, gemblenging karsa, untuk bersatu bahu-membahu melawan terorisme. Terorisme adalah kebiadaban, kedzaliman, dan kejahatan kemanusiaan. Pada tempatnya jika terorisme dijadikan sebagai musuh bangsa dan musuh bersama.
Bagi para pemimpim, meski berbeda haluan politik, seharusnya dalam menyikapi masalah bangsa, termasuk terorisme, berada dalam satu haluan dan satu visi. Perbedaan pandangan yang dimunculkan kepermukaan sebagai adu argumentasi tidak diperlukan. Sebab hal ini akan membingungkan rakyat. Bukan tidak mungkin rakyat semakin tidak tenteram karena pemimpinnya tidak damai.

Tidak dilarang anak bangsa berbeda pandangan. Namun dalam hal menyikapi perbedaan pandangan itulah masing-masing anak bangsa harus mampu menahan diri dengan tetap mengedepankan kepentingan bangsanya daripada kepentingan pribadi dan golongannya.
Belajarlah kita kepada para pendahulu. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, meskipun berbeda pendapat dalam banyak hal, hampir tidak pernah perbedaan itu tampak di permukaan sebagai kompetisi yang menjurus konflik. Demikian pula Presiden Soeharto dengan Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX, meskipun berseberangan dalam berbagai kebijakan pembangunan, tetapi hal itu tidak sampai membingungkan rakyat. Demikianlah kearifan pemimpin kita tempo doeloe.

Neng Ning Nung Nang
Merespon sesuatu tidak harus reaktif-emosional, apalagi gegabah. Maka pemimpin perlu wicaksana dan wasis mengimplementasi kiat meneng-wening-hanung-menang atau wenang yang dirumuskan sebagai Neng-Ning-Nung-Nang. Demikian Ki Hadjar Dewantara memberi petuah.

Menghadapi berbagai permasalahan hendaknya setiap orang mengawalinya dengan bersikap diam (Neng), tidak mengobral kata dan tidak mengumbar janji. Dengan sikap diam maka dia dapat berpikir jernih (Ning), tidak tumpang tindih, dan tidak salah konsep untuk dikombinasikan dengan kebesaran jiwa, keluasan wawasan, dan kedalaman pengetahuan (Nung) menuju sebuah kemenangan (Nang) yang diidamkan. Apabila hal ini dapat dilakukan maka dicapai sebuah kemenangan tanpa harus menyebabkan kompetitornya merasa kalah apalagi merasa dipermalukan (menang tanpa ngasorake).
Adalah pesan teroris yang sangat mengerikan jika bangsa ini harus runtuh berkeping-keping oleh karena tidak damainya para pimimpin, tidak tertibnya kehidupan berbangsa, dan tidak tata tentremnya rakyat. Masihkah kita peduli ?

Ki Sugeng Subagya,
Pamong Ibu Pawiyatan Tamansiswa di Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar