Laman

Minggu, 27 Desember 2009

Pendidikan Ketamansiswaan

Konsepsi Kebudayaan Ki Hadjar Dewantara
Oleh : Ki Sugeng Subagya

KETIKA kekerasan menjadi pemandangan sehari-hari. Perebutan kekuasaan dengan saling sindir, hujat menghujat, dan bahkan memfitnah menjadi kebiasaan. Praktik pelanggaran hukum, menyalahgunakan wewenang, menilep harta yang bukan haknya, dan berselingkuh hampir tidak ada perasaan sungkan. Inilah potret masyarakat yang tidak beradab.

Ki Hadjar Dewantara dengan Tamansiswa-nya menawarkan konsepsi-konsepsi kebudayaan menuju peradaban. Saatnya kita membuka kembali file-file konsepsi kebudayaan itu untuk direnungkan dan kemudian dipergunakan merekonstruksi kehidupan bermasyarakat dan berkebangsaan kita.
Tamansiswa sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas sebagai sara utamanya berdasarkan atas konsepsi Kebudayaan, Kebangsaan, Pendidikan, Sistem Kemasyarakatan, dan Sistem Ekonomi Kerakyatan. Intinya ialah, bangsa ini tidak boleh kehilangan jati diri, menjaga keutuhan dalam berbangsa, menjalankan pendidikan yang baik untuk mencapai kemajuan, terjadinya harmonisasi sosial di dalam bermasyarakat, serta menghindari terjadinya kesenjangan ekonomi yang terlalu tajam antarwarga negara.

Selama ini, orang sangat mengenal teori puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan. Maknanya, kebudayaan nasional adalah puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan daerah yang ada di Indonesia. Kebudayaan nasional bukanlah sesuatu yang statis akan tetapi bergerak dinamis sesuai dengan irama kemajuan zaman. Dalam konsep ini seluruh kebudayaan daerah dihargai sebagai aset kebudayaan nasional; di sisi yang lain adanya kemajuan kebudayaan sangat dimungkinkan, baik kebudayaan nasional maupun daerah.

Selain teori puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan, ada banyak konsepsi kebudayaan yang dapat dijadikan paugeran membangun kebangsaan masyarakat Indonesia.

Konsepsi Trikon
Dalam pengembangan kebudayaan nasional, dikenal konsep Trikon, ialah kontinuitas, konvergensitas, dan konsentrisitas. Hendaknya bangsa ini mampu melestarikan budaya peninggalan para pendahulu dengan tetap memberikan ruang kepada budaya manca untuk saling berkolaborasi. Meski demikian dalam kolaborasi antara budaya kita dengan budaya manca tersebut hendaknya menghasilkan budaya baru yang lebih bermakna dengan cara selektif dan adaptatif.

Konsepsi Tripantangan
Dalam pengembangan hidup bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, dikembankan konsepsi tripantangan, ialah pantang untuk menyalah gunakan harta, wanita dan parja. Maksudnya, setiap warga bangsa tidak boleh menggunakan harta orang lain secara tidak benar (misalnya korupsi), menyalahgunakan jabatan (misalnya kolusi), dan bermain wanita (misalnya menyeleweng atau perselingkuhan).

Konsepsi Trihayu
Dalam meneguhkan komitmen sebagai bangsa beradab dikembangkan konsep Trihayu, ialah memayu hayuning sarira, memayu hayuning bangsa, dan memayu hayunin bawana. Apapun yang diperbuat oleh seseorang, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya dan bermanfaat bagi umat manusia di dunia pada umumnya. Perbuatan yang bermanfaat itulah jaminan terwujudnya kebahgiaan diri, bangsa dan umat manusia.

Konsepsi Trisakti Jiwa
Pengembangan manusia paripurna didasari oleh konsepsi Trisakti Jiwa, ialah cipta, rasa, dan karsa. Untuk melaksanakan segala sesuatu maka harus ada harmoni antara hasil olah pikir, hasil olah rasa, serta motivasi yang kuat di dalam dirinya. Manusia yang paripurna ialah manusia yang mencapai harmoni keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara daya cipta, rasa dan karsanya. Cara mendidik harmoni keseimbangan, keselarasan dan keserasian daya cipta, rasa dan karsa dilakukan dengan asah, asih dan asuh. Jika salah satu daya dikembangkan lebih dominan dari yang lain maka akan didapat ketimbangan jiwa-raga. Bisa jadi orangnya pinter, tetapi tidak berperasaan dan kemauannya mlempem, atau sebaliknya.

Trilogi kepemimpinan
Bangsa yang beradab terdiri atas para pemimpin, ialah pemimpin diri sendiri dan orang lain. Untuk menjadi pemimpin di tingkat mana pun harus berpedoman kepada Trilogi Kepemimpinana, ialah ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, serta tutwuri handayani. Seorang pemimpin ketika berada di depan harus mampu menjadi teladan (contoh baik), ketika berada di tengah-tengah harus mampu membangun semangat, dan ketika berada di belakang harus mampu mendorong semangat yang dipimpinnya

Itulah konsepsi-konsepsi kebudayaan menuju peradaban Ki Hadjar Dewantara dengan Tamansiswa-nya. Pada saatnya, konsepsi-konsepsi ini perlu direnungkan kembali untuk berkaca diri. Masihkah diantara anak bangsa ini ngerti, ngrasa dan nglakoni petuah luhur Ki Hadjar Dewantara itu ? Sebaiknya, jika memang bangsa Indonesia tetap bercita-cita mulia sebagai bangsa beradab yang kajen keringan di mata dunia, kita rujuk kembali piwulang luhur ini.



Artikel dimuat Majalah SISWA, Oktober 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar