Laman

Minggu, 27 Desember 2009

Pendidikan Ketamansiswaan

KI HADJAR DEWANTARA :
Pengasingan dan Penjara Wahana Perjuangan
Oleh : Ki Sugeng Subagya


Umumnya, penjara adalah tempat untuk membuat jera. Demikian halnya “pengasingan” ditujukan agar yang bersangkutan tidak dapat berhubungan dengan komunitasnya, sehingga apa yang menjadi tujuannya tidak dapat dicapai. Sebagai seorang patriot sejati, asumsi penjara seperti di atas, bagi Ki Hadjar Dewantara tiada berlaku. Dari balik penjara dan dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara tetap berjuang.

Hukuman pengasingan Soewardi dipergunakan hari-harinya untuk tetap mengobarkan perjuangan. Meskipun sesungguhnya, hukuman Soewardi dalam pembuangan berakhir tahun 1917. tetapi karena Perang Dunia I berkecamuk, maka baru tahun 1919, tepatnya 6 September Soewardi tiba di Bandung. Ada hikmah di balik itu. Beberapa hal dapat dicatat, diantaranya adalah; (1) Peringatan hari lahir Boedi Oetomo ke-10 diperingati untuk pertama kalinya di Nederland. Soewardi memimpin pertunjukan dalam peringatan itu. (2) Bulan September 1918, Soewardi mendirikan kantor berita dengan nama Indonesich Persburean. Sejak itulah nama Indonesia dipergunakan oleh surat kabar di negeri Belanda.(3) Pada tahun 1916, Soewardi mengerjakan penggubahan tembang Kinanthi Sandhung karya Sri Mangkunegara IV dalam notasi piano. Tembang itu dipergelarkan pertama kali di Den Haag pada 30 Agustus 1916, dinyanyikan oleh N Roelofswaard dengan iringan piano C Kleute. Keduanya adalah mahasiswi Koninklyke Conservatorium.

Sesampai di tanah air Soewardi menetap di Semarang. Disamping menjadi pengurus partai politik, juga memimpin majalah De Beweging, Persatuan Hindia, De Expres, dan Penggungah. Disebabkan oleh tulisan-tulisannya yang tajam dan pedas, Soewardi terkena delik pers. Ia ditangkap dan dipenjarakan di Semarang, dan kemudian dipindahkan ke Pekalongan,

Keluar dari penjara Soewardi menetap di Yogyakarta. Bersama dengan paguyuban Selasa Kliwonan mendiskusikan banyak hal untuk tercapainya Indonesia merdeka. Untuk mencapai Indonesia merdeka mustahil jika didalam diri setiap bangsa Indoensia tidak tertanam jiwa merdeka. Hanya dengan pendidikan maka jiwa merdeka dapat ditanamkan. Oleh sebab itu paguyuban Selasa Kliwonan menugaskan kepada Ki Ageng Suryamentaram untuk mendidik jiwa merdeka orang dewasa, sedang Soewardi ditugasi menggarap jiwa merdeka anak-anak. Untuk itulah kemudian Ki Ageng Suryomentaram mengembangkan psikologi orang dewasa “kawruh begja” untuk menggarap jiwa orang dewasa, dan Soewardi mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa untuk menggarap jiwa anak-anak.

Saat Soewardi genap berusia 5 windu atau 40 tahun menurut perhitungan tahun Jawa berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Pergantian nama ini dimaknai sebagai “tengara” perubahan dari satriya pinandhita, ksatria yang berjiwa pendeta atau guru menjadi pandhita sinatriya, ialah pendeta atau guru yang juga bersedia mengangkat senjata untuk berjuang membela bangsa dan tanah airnya.

Pasang surut perjuangan menuju Indonesia merdeka dilalui dengan suka duka. Banyak tantangan, hambatan dan gangguan harus dihadapi. Tetapi perjuangan itu sampailah pada puncaknya saat diproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai menteri pendidikan dan pengajaran. Kemudian diangkat menjadi anggota DPR-RI tetapi pada tahun 1954 mengundurkan diri. Sejak itulah sepenuh tenaga, waktu dan pikiran Ki Hadjar Dewantara dicurahkan untuk Tamansiswa.

Ki Hadjar Dewantara wafat dalam usia 70 tahun. Dimakamkan di Taman Wijayabrata Yogyakarta dengan upacara militer kenegaraan dan diangkat sebagai perwira tinggi. Bukan harta benda melimpah yang ditinggalkan. Butir-butir mutiara ajaran hidup dan spirit perjuangan kemanusiaan untuk kesejahteraan bangsa dan negaranya adalah warisan yang tidak ternilai harganya. Ki Hadjar Dewantara adalah pahlawan sejati yang tidak pernah mempromosikan dirinya. Gelar bangsawanya tidak dilekatkan pada namanya. Gelar akademik tertinggi dari Universitas Gadjah Mada juga tidak dilekatkan pada namanya. Itu semua dianggap tidak bermanfaat apabila dapat menghalangi kedekatannya dengan rakyat.

Perguruan nasional yang didirikannya tidak diberi nama “Dewantara Instituut”, tetapi diberi nama Tamansiswa. Metode menyanyi Jawa yang diciptakannya tidak diberi nama metode “Dewantara”, tetapi metode Sari Swara. Hal ini karena beliu tidak mau dipujadewakan atau dikultus-individukan.

Karena jasa-jasanya yang luar biasa terhadap nusa dan bangsanya, penghormatan dan penghargaan diterimanya bukan karena diminta. Diantaranya adalah; (1) sehari sebelum upacara pemakan, diangkat secara anumerta sebagai Ketua Kehormatan PWI atas jasanya dalam dua jurnalistik. (2) Diangkat sebagai pahlawan nasional pada tanggal 10 November 1959. (3) Melalui keputusan presiden nomor 316, tanggal lahirnya ditetapkan sebagai hari pendidikan nasional. (4) Dianugerahi Bintang Mahaputera Kelas I, dan sebagainya.

Hikmah
Dari nukilan sejarah ini kita dapat memetik hikmah bahwa memimpin itu bukan untuk berkuasa, tetapi untuk mengabdi. Mengabdi itu didasari oleh spirit sepi ing pamrih rame ing gawe. Jika kemudian ada kehormatan dan penghargaan yang diterima, itu bukan karena diminta, tetapi karena buahnya perbuatan. Untuk memimpin harus dimulai dari labuh labet. Untuk menjadi orang besar yang dikenang prestasinya meski sudah meninggal dunia, tidak dapat dilakukan dengan cara menerabas.

Bandingkan dengan keadaan sekarang. Masuk penjara terlebih dahulu baru kemudian menjadi pemimpin bangsa. Atau menjadi pemimpin bangsa terlebih dahulu baru kemudian masuk penjara karena kasus korupsi kolusi dan nepotisme atau kriminal. Keduanya saling bertolak belakang, yang pertama sangat mulia dan yang kedua sangat hina. Tidak kurang teladan buruk para pemimpin kita, durung pecus kesusu besus. Semua itu karena ambisi pribadi dalam rangka berkuasa dengan cara ancik-ancik bangkene liyan. ''Na'udubillahi mindzalik''
Dimuat Majalah SISWA Juni 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar