Laman

Minggu, 27 Desember 2009

Pendidikan Ketamansiswaan

KI HADJAR DEWANTARA :
Memimpin itu Mengabdi

Oleh : Ki Sugeng Subagya


Bertepatan dengan tanggal 9 April 2009, bangsa Indonesia akan terlibat dalam pesta demokrasi. Ialah pemilihan umum calon anggota legislatif. Jauh sebelum saatnya tiba, hiruk pikuk menyongsong pesta demokrasi itu telah mewarnai kehidupan masyarakat dengan apa yang disebut sebagai kampanye. Para calon dengan tim suksesnya gencar “menawarkan diri” agar kelak dipilih. Bagai orang jualan kecap, maka semua calon mengatakan dialah yang nomor satu. Dialah yang terbaik. Dialah yang paling pantas. Dialah yang terhebat.

Jika semua itu dikembalikan kepada substansinya, tiadalah berguna sesungguhnya orang menganggap dirinya yang terbaik. Menilai diri sendiri sebagai yang terbaik dapat dipastikan keliru. Dalam kalangan masyarakat Jawa, terdapat ajaran “aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa”. Intinya, hendaknya orang itu tahu diri. Menilai diri sendiri sebagai yang terbaik dengan mengabaikan keberadaan orang lain, itulah yang dinamakan tidak tahu diri.

Menjadi anggota legislatif itu hakekatnya adalah menjadi pemimpin. Memimpin itu bukan untuk memerintah dan bukan pula untuk berkuasa. Memimpin itu sesungguhnya untuk mengabdi. Dan tentu, memimpin tidak cukup hanya dengan bermimpi. Berdasarkan pengalaman pemilihan umum yang pernah terselenggara selama ini, belum berhasil mendudukkan pemimpin, yang muncul lebih banyak penguasa.

Slogan dan janji-janji kampanye lebih banyak pepesan kosong. Mengaku akan menjadi pemimpin ternyata yang lahir adalah penguasa. Ironisnya mereka berkedok demokrasi, sebab katanya telah mendapat mandat rakyat. Akibatnya, ketika masa kepemimpinannya telah berakhir, hilang tak berbekas. Selama ini bagi rakyat yang muncul bukan kebanggaan, tetapi kekecewaan. Demokrasi dan keberpihakan kepada rakyat hanya diteriakkan dari atas podium kampanye, tetapi yang terjadi di lapangan, rakyat tetap dibiarkan teraniaya.

Seharusnya Pemilu melahirkan pemimpin yang diinginkan oleh rakyat. Rakyat tidak dibohongi sehingga mereka tidak salah pilih terhadap sosok atau figur yang cocok menjadi pemimpinnya. Pemimpin benar-benar dirasakan sebagai milik rakyat. Bukan rakyat yang “dimiliki” pemimpin. Jika hal itu yang terjadi, maka tidak mustahil uang rakyat dikorupsi dan rakyat harus melayani penguasa. Akibatnya, rakyat tersisih di negerinya sendiri. Negara dikuasai oleh pejabat yang dipilih oleh rakyat bukan untuk mengabdi rakyat tetapi untuk menguasai rakyat.

Diharapkan Pemilu 2009 dapat memilih pemimpin, bukan penguasa. Rakyat harus jeli memilih figur yang benar-benar diyakini akan menjadi pemimpin yang baik, pintar, cerdas, jujur, bijaksana, adil, akan dipertahankan dan dihormati oleh rakyat.
Jika hasil Pemilu ini baik, mereka yang dapat kursi akan dilindungi oleh rakyat. Mereka menjadi pemimpin yang kharismatik. Ketika dia memegang jabatan atau kekuasaan tertap dihormati, setelah dia tidak lagi berkuasa tetap menjadi panutan. Pulang tempat berberita, pergi tempat rakyat bertanya. Lahirlah bapak bangsa atau bapak rakyat yang baik.

Contoh yang bisa kita jadikan pemimpin, adalah Ki Hadjar Dewantara. Beliau berjuang untuk rakyat. Ketika menduduki jabatan selalu memikirkan rakyat. Beliau takut mendustai rakyat.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, dalam pelaksanaan memimpin hanya diperlukan dua syarat. Bagi pemimpin syaratnya adalah “berani dan bijaksana”. Sedangkan bagi yang dipimpin, syaratnya adalah “berani dan setia”.

Modal berani saja tidaklah cukup bagi seorang pemimpin. Keberanian tidak akan efektif tanpa perhitungan dan kebijaksanaan. Keberanian tanpa kebijaksanaan akan menjerumuskan bangunan organisasi dalam kehancuran. Bagai kapal berlayar yang hanya mengandalkan keberanian menerjang ombak tanpa perhitungan dan kebijasanaan, tidak mustahil kapalnya malah karam.

Kebijaksanaan saja tanpa ada keberanian, niscaya tidak akan menghasilkan apa-apa. Tanpa keberanian, kebijaksanaan akan menjadi tempat sembunyi dari usaha menyelematkan pemimpin sendiri. Kebijaksanaan diambil bukan untuk kepentingan keselamatan pemimpin, tetapi untuk keselamatan bangun organisasi beserta seluruh anggotanya. Janganlah kebijasanaan itu dijadikan tempat pelarian dan persembunyian dari ketatukan. Hanya orang yang berani yang berhak menentukan kebijaksanaan.

Bagi yang dipimpin, setia kepada cita-cita perjuangan dan taat kepada kebijaksanaan pemimpin adalah jaminan keberhasilan. Berani menentang bahaya karena kesetiaan dan ketaatannya kepada cita-cita perjuangan. Perjuangan tanpa ada kesetiaan dan ketaatan dari yang dipimpin, maka hancurlah perjuangan itu sendiri.

Sebagai kenyataan hidup, memimpin dan dipimpin hendaknya dihadapi secara aanvarding. Tegas Ki Hadjar Dewantara. Hal yang demikian ini oleh Drs. Raden Mas Pandji Sosro Kartono, kakak Raden Ajeng Kartini, dirumuskan sebagai nrimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana bungah tan ana susah, dan anteng mantheng sugeng jeneng.

Nrimah mawi pasrah tidak berarti nglokro, menerima keadaan secara pasif dan menyerah karena merasa tidak berdaya, melainkan legawa menyerahkan hasil akhir pada kehendak Tuhan. Karena itu sikap yang ditunjukkan adalah menerima kebenaran dengan sabar dan toleran, dan bersedia menerima kebenaran itu jika ia dapat meyakini kebenarannya.

Menyikapi kenyataan hidup sebagaimana adanya adalah dasar bersikap kritis dan obyektif. Sikap yang demikian dibangun bebas dari pengaruh keterikatan terhadap barang atau orang, situasi dan kondisi, bebas dari keinginan memiliki (suwung pamrih tebih ajrih. Tetap tangguh, konsisten dan terpercaya (langgeng) dalam keadaan apapun (tan ana bungah tan ana susah). Tenteram damai (anteng) penuh kegembiaraan dan kegairahan hidup (mantheng) untuk kesejahteraan dan kebahagiaan didi, keluarga, masyarakat, bangsa dan umat manusia serta tertib damainya seluruh alam semesta dan isinya (sugeng jeneng).

Ada hikmah dapat dipetik dari uraian ini. Memimpin itu bukan untuk dilayani, tetapi melayani. Memimpin itu bukan untuk berkuasa, tetapi untuk mengabdi. Memimpin itu menyejahterakan, bukan disejahterakan. Memimpin itu tampil didepan saat genting dan berada dibelakang saat aman. Memimpin itu adalah tanggungjawab, bukan hak. Ayo, ..... siapa mau menjadi pemimpin !!.
Artikel dimuat Majalah SISWA, April 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar