Laman

Sabtu, 10 Oktober 2009

Ujian Nasional

Tim Sukses Unas
Ki Sugeng Subagya

UJIAN nasional atau populer disebut Unas dapat memotivasi siswa, orang tua siswa, guru dan pihak-pihak terkait lainnya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa secara maksimal. Demikianlah salah satu simpulan penelitian Tim Peneliti Universitas Negeri Yogyakarta dan Tim Peneliti Lembaga Studi Pembangunan Indonesia (LSPI) Yogyakarta tahun 2004. Simpulan ini dijadikan sebagai salah satu alasan dilanjutkannya Unas sampai sekarang oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Demikianlah adanya, diselenggarakannya Unas mampu membangun motivasi banyak pihak terkait dengan peningkatan prestasi belajar siswa. Guru dan sekolah melakukan berbagai upaya pendalaman dan pengayaan materi pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan para siswanya sehingga lebih siap menghadapi Unas. Orangtua siswa tidak kalah upayanya memberikan kesempatan kepada putra-putrinya mengikuti bimbingan belajar, les privat, kursus dan sebagainya. Demikian pula para siswa peserta Unas tidak kalah gigihnya belajar giat dan berlatih keras.

Langkah Strategis
Untuk menyiapkan peserta Unas agar lebih baik, dibentuklah Tim Sukses Unas. Pembentukan tim sukses Unas di tingkat sekolah dengan melibatkan berbagai pihak termasuk komite sekolah dan orangtua siswa menunjukkan betapa seriusnya persiapan menghadapi Unas yang didorong oleh kesungguhan pihak-pihak terkait. Langkah-langkah strategis dengan program yang matang dan terukur dilakukan oleh tim sukses ini. Pengayaan materi pelajaran dan penambahan jam belajar dalam rangka efektifitas pembelajaran merupakan langkah strategis yang umum dilakukan. Untuk melihat efektifitas kegiatan dilakukan try out yang diselenggarakan tidak hanya dua tiga kali dalam satu semester. Ada beberapa sekolah yang menyelenggarakan try out setiap minggu dalam satu semester menjelang pelaksanaan Unas.

Hasil try out merupakan barometer kesiapan siswa dalam menghadapi Unas. Bagi siswa yang hasil try out-nya belum sesuai dengan harapan diperbanyak lagi kegiatan pembahasan soal-soal dan pendampingan. Bagi siswa yang terdeteksi kemampuannya rendah dilakukan pendampingan secara individual. Tidak kalah pentingnya dorongan mental melalui kegiatan-kegiatan siraman rohani dan doa bersama sebagai salah satu bentuk persiapan mental peserta Unas. Bahkan ada beberapa sekolah yang menyelenggarakan “pondok asrama” khusus persiapan menghadapi Unas.

Tentu untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti ini diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Dalam hal inilah peran orangtua dan komite sekolah yang tergabung dalam tim sukses Unas sangat dibutuhkan.

Siasat Manipulatif
Upaya sungguh-sungguh dan kerja keras tim sukses Unas seperti tersebut di atas perlu mendapat apresiasi. Dalam hal yang demikianlah sesungguhnya Unas mampu memotivasi berbagai pihak untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Tetapi, faktanya tidak dapat dipungkiri ada tim sukses Unas yang melalukan siasat manipulatif. Bahkan upaya-upaya yang dilakukan cenderung mengarah kepada tindak kecurangan.

Berdasar amatan penulis, setidaknya siasat manipulatif itu dilakukan dalam bentuk mengabaikan kejujuran dan obyektifitas untuk kepentingan sesaat. Taruhlah, sebuah contoh kesepakatan tim sukses Unas suatu sekolah. Kepala sekolah memutuskan tidak mengirim para guru matapelajaran yang di-Unas-kan melakukan pengawasan silang. Hal ini bukan tanpa maksud, para guru yang tidak dikirim ini diberi tugas khusus untuk menjawab soal-soal dari lembar soal cadangan dan kemudian meletakkan jawaban itu secara tersembunyi di suatu tempat (misalnya di kamar mandi). Maka pada waktu yang telah disepakati ada beberapa siswa minta ijin kepada pengawas ruangan ke kamar mandi yang sesungguhnya untuk ”menyadap” jawaban ujian yang sudah dipersiapkan.

Ketika dirunut lebih jauh, ternyata praktik kecurangan itu tidak hanya sampai di situ. Meskipun sulit dibuktikan, ternyata pengawas silang yang datang di sekolah itupun sudah dikondisikan untuk ”tahu sama tahu”. Tampak dari luar pelaksanaan Unas berjalan dengan baik dan lancar, tetapi di dalamnya terdapat praktik kotor yang jauh dari nilai-nilai pedagogis.

Barangkali kecurangan tersebut hanya merupakan salah satu dari berbagai kecurangan lain yang ada dalam penyelenggaraan Unas. Tentu hal yang demikian ini tidak menjadi bagian dari sisi baik Unas yang mampu memotivasi siswa, guru, orangtua siswa dan pihak-pihak terkait dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Apabila Unas tetap diselenggarakan, maka sistemnya perlu diperbaiki sedemikian rupa sehingga dapat mengedepankan komitmen penyelenggara dan pelaksana di lapangan. Baik penyelenggara maupun pelaksana ujian nasional hendaknya mengembangkan komitmen yang tinggi terhadap kesungguhan, kejujuran, transparansi dan akuntabilitas publik. Itu baru namanya motivasi positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Semoga.-



Ki Sugeng Subagya
Pamong Tamansiswa, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar