Laman

Jumat, 09 Oktober 2009

Pendidikan Nasional Indonesia

Pendidikan Memandirikan Bangsa
Oleh : Ki SUGENG SUBAGYA

Bagaimanakah pendidikan berperan dalam memandirikan bangsa ? Itulah persoalan besar kita dewasa ini.

Bung Karno jauh hari me”wanti-wanti” dengan “Trisakti”nya. Bangsa Indonesia harus (1) berdaulat secara politik, (2) berdikari secara ekonomi, dan (3) berkepribadian secara kebudayaan. Satu dasawarsa sebelumnya, Ki Hadjar Dewantara memberkan panduan bangsa merdeka melalui tembang “Wasita Rini”. Penggalan pupuh ketiga tembang itu berbunyi “mardika iku jarwanya, nora mung lepas ing pangreh, nging uga kuwat kuwasa, amandhiri priyangga”. Maknanya kurang lebih, bahwa merdeka itu artinya tidak hanya lepas dari perintah orang lain. Tetapi harus kuat dan mampu mengatur diri sendiri atau mandiri.

Melihat fakta yang ada, keadaan bangsa Indonesia masih jauh dari cita-cita bangsa mandiri. Ketergantungan, lebih dari sekadar bantuan, dalam menyelesaikan berbagai persoalan, berakibat bangsa ini terjerat ketidakmandirian. Aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan dalam kungkungan bangsa lain. Krisis identitas dan jati diri sebagai bangsa mulai berkembang sebagai akibat implementasi westernisasi tanpa filtrasi kebudayaan.

Mendidik Insan Mandiri
Ki Sarino Mangunpranoto, merumuskan jiwa mandiri sebagai pribadi ksatria yang tidak mengharap bantuan orang lain dengan ikatan apapun. Ia mampu bekerja tanpa perintah orang lain. Ia mampu mengatur diri sendiri dan berkuasa atas dirinya sendiri. Jiwa mandiri hanya dapat dibangun dengan pendidikan merdeka.

Pendidikan merdeka akan mampu mengantarkan peserta didik menjadi insan mandiri. Dalam hal ini tiadalah mungkin orang dapat merdeka jika tidak mandiri. Untuk dapat mandiri maka harus makarya. Sebab dengan makarya orang akan mampu memperoleh penghasilan untuk mencukupi kebutuhan dirinya sendiri, keluarga dan mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Melihat gerak langkah pembangunan pendidikan kita dewasa ini, harus diakui bahwa sudah banyak kemajuan yang dicapai. Berbagai prestasi regional dan internasional banyak didapat oleh anak-anak bangsa Indonesia. Tetapi, jika dikaitkan dengan tujuan akhir pendidikan merdeka menuju kemandirian, kita masih harus terus bekerja keras untuk mewujudkannya. .

Tidak sedikit lulusan sekolah yang terpaksa menganggur. Keluar masuk kantor menenteng map berisi lamaran kerja. Hal ini merupakan indikasi gagalnya pendidikan menghasilkan insan mandiri. Mereka tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Jangankan lapangan pekerjaan untuk orang lain, untuk dirinya sendiri saja tidak ada kemampuan. Dalam kenyataan, mereka menggantungkan diri kepada “pemerintah”. Tidak mampu bernisiatif dan bekerja tanpa diperintah orang lain. Sekolah lebih banyak mengajarkan muatan intelektualisme dalam batasan-batasan ketat teoritik dengan mengesampingkan implementasi praktik dalam dunia nyata.

Benarlah olok-olok Ki Hadjar Dewantara, lihatlah itu cecak. Dia tidak sekolah. Dia tidak mempunyai ijazah. Tetapi dia tidak pernah mengganggur. Dia tahu dimana harus mencari makan. Dia tahu, dimana ada lampu, disana banyak datang nyamuk. Dan disanalah cecak mencari makan menangkap nyamuk makanannya. “Apes temen, wong pinter-pinter kok kalah karo cecak”.

Kegagalan mendidik insan mandiri nampak jelas dari tidak dimilikinya rasa percaya diri. Bukan hanya setelah lulus, para siswa tidak percaya diri sejak dibangku sekolah. Fenomena menyontek sampai dengan kecurangan-kecurangan lain dalam peneyelanggaraan ujian adalah bukti tidak percaya diri. Hal ini diperparah oleh sikap beberapa oknum pendidik yang tidak responsif menanggulangi kecurangan, tetapi tidak sedikit diantara mereka malah terlibat dalam praktik kecurangan itu.
Fakta tentang pelanggaran berindikasi kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun 2008/2009 merupakan bukti gagalnya pendidikan kemandirian.. Kunci jawaban beredar sebelum dan selama pelaksanaan UN terjadi di 8 SMA. Naskah soal dalam bentuk sof copy beredar sebelum pelaksanaan UN pada 16 SMP dan 1 SMA. Pembetulan jawaban pada lembar jawab UN terjadi di 7 SMA. Guru memberikan jawaban saat ujian sedang berlangsung terjadi di 2 SMA dan 1 SMP. Disamping itu ada 1 SMP yang melakukan perbaikan lembar jawaban UN.

Lihatlah, betapa sibuknya orangtua murid mengintervensi sekolah anak-anaknya. Antrean panjang di loket PPDB tidak hanya dijejali oleh para calon murid, tetapi didominasi orangtua murid. Belum lagi keinginan-keinginan setengah memaksakan kehendak orangtua untuk pendidikan anak-anaknya. Dari memilih sekolah, memasukkan sekolah sebelum usianya, memaksa anak harus naik kelas meski kemampuannya belum cukup, dan sebagainya.

Fakta di atas sungguh memprihatinkan. Kecurangan dalam pelaksanaan ujian tidak hanya dilakukan oleh siswa, tetapi guru terlibat langsung di dalamnya. Salah satu sebab kecurangan karena tidak adanya rasa percaya diri pada siswa dan guru dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Di lain pihak, dominasi orangtua dalam pendidikan anak-anak menyebabkan hilangnya kemandirian anak.

Hemat penulis, pendidikan kita harus segera dibenahi. Kembalikan roh pendidikan nasional sebagai pendidikan yang memerdekakan. Pendidikan yang memerdekakan harus dilakukan dengan cara-cara yang merdeka pula. Hanya pendidikan yang memerdekakan yang mampu membangun insan-insan mandiri menuju terwujudnya bangsa mandiri yang makarya, sebagaimana harapan para pendiri bangsa ini. Bukankah slogan pendidikan nasional kita masih TUTWURI HANDAYANI ? Berilah kemerdekaan seluas-luasnya kepada anak-anak kita untuk memperoleh pengetahuan yang penting dan berguna. Dalam pada itu guru jangan melepaskan perhatian dan pengawasan, tetaplah memberi pengaruh yang baik dari belakang.


Ki Sugeng Subagya,
Pamong Tamansiswa dan Konsultan Pendidikan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar