Laman

Kamis, 05 Agustus 2010

Nama Kecil Orang Besar


MUHAMMAD DARWISY DAN SUWARDI SOERJANINGRAT


Oleh : Ki Sugeng Subagya


Di Yogyakarta, bulan Juli 2010 menjadi pusat perhatian masyarakat. Sebagaimana setiap tahun terjadi, bertepatan dengan liburan sekolah, rombongan wisatawan domestik banyak berkunjung ke Yogyakarta. Kawasan Malioboro, Parangtritis, Kraton Yogyakarta, dan obyek wisata lainnya dipenuhi wisatawan. Saat itu juga bertepatan dengan masih berlangsungnya Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang digelar sebulan penuh. Pusat kegiatan FKY yang tepat di jantung kota Yogyakarta, menambah riuhnya kesibukan kota pelajar dan kota budaya ini.

Tidak kalah hiruk pikuknya, pada tanggal 3 sampai dengan 8 Juli 2010 digelar muktamar 1 abad Muhammadiyah. Pembukaan muktamar dilakukan dengan gegap gempita. Stadion Mandala Krida Yogyakarta, sebagai tempat pembukaan dijubeli ratusan ribu orang. Di luar stadion sampai radius lebih dari tiga kilometer orang masih hiruk-pikuk lalu-lalang. Hampir semua jalanan dalam kota Yogyakarta macet total. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka muktamar dengan pidato secara teleconfrence dari Jedah Arab Saudi.

Bertepatan dengan pembukaan muktamar 1 abad Muhammadiyah, keluarga besar Persatuan Tamansiswa memperingati hari lahir Tamansiswa. Sejak tanggal 3 Juli 1922 sampai 3 Juli 2010 Tamansiswa telah mencapai hitungan tahun yang ke-88. Ulang tahun Tamansiswa kali ini terasa istimewa, karena bertepatan dengan usia 11 windu atau 88 tahun.

Begitupun, tulisan ini tidak akan membahas lebih lanjut tentang kemeriahan Muktamar 1 abad Muhammadiyah dan 11 windu peringatan hari lahir Tamansiswa. Perhatian penulis, justeru kepada pendiri Muhammadiyah dan Tamansiswa. Ialah, Muhammad Darwisy dan Suwardi Soerjaningrat. Muhammad Darwiys adalah nama kecil KH Achmad Dahlan, pendiri dan pemimpin Muhammadiyah. Sedangkan Suwardi Soerjaningrat adalah nama kecil Ki Hadjar Dewantara, pendiri dan pemimpin Tamansiswa.

Nama ketika kanak-kanak tokoh besar ini sengaja dijadikan judul tulisan ini bukan tanpa maksud. Keduanya adalah ”Anak Yogya” masa lampau yang kebesarannya hingga kini masih dikenang. Meskipun mereka tokoh besar, tetapi kedekatan dan upayanya mengangkat ”wong cilik” agar lebih sejahtera adalah perhatian utama perjuangannya. Keduanya menggunakan pendidikan sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Muhammad Darwisy
Muhammad Darwisy dilahirkan dari kedua orang tuanya, yaitu KH. Abu Bakar (seorang ulama dan Khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri dari H. Ibrahim yang menjabat sebagai penghulu kesultanan juga). Ia merupakan anak ke-empat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa.

Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil yang mengajarinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.

Pada usia 20 tahun, Muhammad Darwisy berganti nama menjadi KH Ahmad Dahlan.

Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad.

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Kelak, Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikannya menjadi besar dan mashur.

Suwardi Soerjaningrat
Suwardi adalah seorang bangsawan. Ia putera Pangeran Soerjaningrat yang lahir pada tanggal 2 mei 1989. Pangeran Soerjaningrat adalah putera KGPAA Paku Alam III. Sedang KGPAA Paku Alam III adalah putera Sri Sultan Hamengku Buwono II. Dengan demikian, Suwardi adalah cucu KGPAA Paku Alam III dan cicit Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Sejak kecil Suwardi memperoleh pendidikan agama Islam secara privat di rumah dengan memanggil guru mengaji. Tahun 1904, tamat Euroeesche Lagere School (ELS) dan meneruskan ke Kweekschool atau Sekolah Guru di Yogyakarta selama satu tahun. Pelajarannya diteruskan ke sekolah dokter Jawa atau School tot Opleiding voor Inlandche Arsten (STOVIA) di Jakarta. Namun sayang, tidak sempat menamatkan sekolahnya.

Selama menjadi mahasiswa STOVIA, Suwardi banyak berkjenalan dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo. Melalui para tokoh yang dikenalnya itu, Suwardi menimba banyak pengalaman berorganisasi.

Jurnalistik adalah lapangan yang digelutinya kemudian. Aktif mengurus dan menulis di surat kabar Sedyotomo dan Midden Java adalah awal kiprahnya. Selanjutnya, pada tahun 1912 diminta Deuwes Dekker pindah ke Bandung untuk mengurus surat kabar De Expres. Selain itu, juga menjadi anggota redaksi harian Kaum Muda, Utusan Hindia, Tjahaja Timur, dan Het Tijdscrift. Kegiatan jurnalistik akhirnya dijadikan sebagai alat perjuangan. Puncaknya, atas nama Komite Boemi Poetra, Suwardi menulis brosur dengan judul “Als ik eens Nederlander was ……” (Seandainya aku seorang belanda ……). Isi brosur itu adalah kritik sangat tajam terhadap pemerintah Belanda yang akan merayakan kemerdekaannya, sedangkan ia sendiri masih menjajah tanah Indonesia.

Tulisan brosur Suwardi memicu tulisan-tulisan tajam selanjutnya. Tak pelak pemerintah segera melakukan tindakan menangkap para penulisnya. Tjipto Mangunkusumo, Deuwes Dekker, dan Soewardi akhirnya diasingkan ke Negeri Belanda. Dalam pengasingan, Suwardi belajar dan tetap berjuang untuk Indonesia Merdeka.

Sekembalinya di tanah air, perjuangan Suwardi untuk Indonesia tidak semakin surut. Melalui pers dan organisasi politik kegigihannya semakin menggebu. Akibatnya ruang penjara menjadi langganannya sebagai tahanan politik.

Dalam suatu kesempatan, timbul sebuah gagasan dalam suatu diksusi kaum intelektual. Ternyata untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan tidak cukup hanya dengan kekuatan politik. Tetapi harus ditopang dengan gerakan pendidikan rakyat untuk menebar benih jiwa merdeka. Untuk itulah maka Suwardi ditugasi menyelenggarakan pendidikan menebar benih jiwa merdeka pada anak-anak. Dan kemudian didirikanlah Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922.

Perguruan Nasional Tamansiswa berkembang pesat. Semula hanya ada di Yogyakarta, dalam kurun waktu 10 tahun telah berkembang menjadi lebih dari 42 cabang baik di Jawa maupun di luar Jawa. Keadaan yang demikian dianggap membahayakan bagi pemerintah kolonial. Untuk melumpuhkan semangat sekolah-sekolah Tamansiswa diterbitkan Onderwijs Ordonantie, ialah Undang-undang tentang sekolah liar. Tamansiswa menentang Undang-undang itu. Perjuangan Tamansiswa ternyata berhasil. Pada tahun 1933 Onderwijs Ordonantie dicabut.

Pada usia 40 tahun atau 4 windum, Suwardi berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Kelak nama ini menjadi sangat mashur dan dikenal banyak orang.

Hikmah
Apa yang dapat dipetik dari uraian singkat di atas ? Tentu sangat banyak suri tauladan yang dapat diambil. Setidaknya, ada pelajaran berharga, bahwa untuk menjadi besar bukan berarti tanpa hambatan. Untuk sukses bukan berarti tidak ada tantangannya. Niat dan keinginan tulus nan mulia belum tentu dipersepsikan tulus dan mulia oleh orang lain. Jika ada pihak yang dirugikan, tentu mereka akan menyusun kekuatan untuk melakukan perlawanan.

Jika para orangtua memberikan nama kepada anak-anaknya, sesederhana apapun nama itu akan memiliki makna yang dahsyat apabila yang memiliki nama tersebut mempunyai sikap dan perilaku terpuji. Sikap dan perilaku terpuji akan semakin lengkap apabila disertai dengan pengorbanan untuk kemaslahatan orang banyak, terlebih orang-orang yang dalam kesulitan. Sebagus apapun nama diberikan, jika ternyata yang memiliki nama tidak mampu menjaga sikap perilaku terpujinya, niscaya nama itu tidak akan bermakna apa-apa.

“Apalah arti sebuah nama”, ujar sang pujangga, William Shakespeare. Tentu saja, nama sebaik apapun tidak akan membuat sang empunya nama menjadi baik pula. Setidaknya, tidak secara langsung. Jika dikemudian hari namanya menjadi sangat mashur, tentu karena budi mulianya yang dikenang.

_______________________

Artikel ini dimuat Majalah SISWA NUSANTARA edisi Juli 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar