Laman

Minggu, 03 Juli 2011

Refleksi Hari Jadi Tamansiswa 3 Juli 2011

Ruh Pendidikan Tamansiswa
Oleh : Ki Sugeng Subagya

Sistem Among adalah dasar pendidikan Tamansiswa ketika lahirnya pada 3 Juli 1922. Sistem Among adalah ruh pendidikan Tamansiswa dan sekaligus embrio sistem pendidikan nasional Indonesia. Perjalanan panjang sistem pendidikan nasional telah sampai pada ‘zaman kebingungan’. Karakter bangsa yang diharapkan terbangun oleh pendidikan, ternyata tergerus oleh pragmatisme pendidikan.

Inti dari sistem among adalah ‘tutwuri handayani’. Itulah sebabnya tutwuri handayani dijadikan slogan Departemen Pendidikan Nasional.

Sebelum kemerdekaan, sistem among dimaksudkan sebagai perlawanan atas sistem pendidikan kolonial yang tidak sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan bangsa Indonesia. Pendidikan kolonial didasari oleh regering, tucht and orde, atau perintah, hukuman dan ketertiban atau paksaan.

Sistem among dipraktikkan dengan orde and vrede, ialah tertib dan damai atau tata tentrem. Pamong tidak boleh memaksa, meskipun sekadar memimpin. Ia juga tidak dalam rangka’nguja’ atau membiar-liarkan. Mencampuri kehidupan anak diperbolehkan ketika anak tersesat di jalan yang salah.

Pijakan sistem among berada pada dua dasar, ialah kemerdekaan dan kodrat alam. Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak sehingga dapat hidup merdeka, mandiri dan makarya. Sedangkan kodrat alam sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya menurut hukum evolusi.

Ketika kurikulum dikembangkan sendiri oleh satuan pendidikan dengan KTSP-nya, dan setiap guru harus mengembangkan sendiri silabus dan rencana pembelajarannya, maka sesungguhnya sudah terbuka lebar peluang mengimplementasi sistem among dalam pembelajaran.

Memberikan layanan pada kecenderungan anak agar tumbuh secara maksimal tanpa adanya perasaan takut dan tertekan adalah salah satu contohnya. Mengutamakan personal aproach atau pendekatan individual dalam pembelajaran dengan memperhatikan kodratnya anak, adalah contoh yang lainnya. Di lain pihak, pamong atau pendidik harus membuka peluang tumbuhnya inisiatif serta kemampuan anak untuk berbuat sesuatu. Sayang, peluang itu kembali tergadai oleh praktik-praktik pendidikan berdasarkan tuntunan dari atas.

Pemberangusan Peserta Didik

Tampaknya, kini perintah dan paksaan telah menjadi alat utama pendidikan nasional. Pemberangusan kebebasan berekspresi bagi peserta didik telah dikondisikan oleh sistem penjaminan mutu pendidikan yang maknanya sangat dangkal. Pendidikan nasional kita telah terjebak dalam pragmatisme sempit. Belajar sekadar untuk naik kelas dan lulus. Target lulus ujian nasional yang dipatok dengan angka-angka spektakuler oleh birokrasi politik memperparah pendidikan kehilangan ruh-nya.

Pragmatisme pendidikan telah mencengkeram ruh pendidikan merdeka. Kemandirian untuk berkarya bagi peserta didik telah terabaikan oleh selembar ijazah formal. Akibatnya, tamat sekolah, peserta didik tak mampu menciptakan pekerjaan bagi dirinya, apalagi orang lain, kecuali’klonthang-klanthung’ menenteng map mencari pekerjaan untuk menjadi buruh pada orang lain.

Peringatan hari lahir Tamansiswa, 3 Juli 2011 adalah saat tepat merenungkan perjalanan pendidikan nasional. Setidaknya, evaluasi diri untuk kembali mengungkap Sistem Among sebagai ruh pendidikan nasional dijadikan panduan melintas perjalanan pendidikan nasional menuju masa depan gemilang. Dalam rangka refleksi, kita renungkan pesan Ki Hadjar Dewantara “... tentang zaman yang akan datang, maka rakyat kita ada di dalam kebingungan. Seringkali kita tertipu oleh keadaan, yang kita pandang perlu dan laras untuk hidup kita, ...” (Ki Hadjar Dewantara : Azas Taman-Siswa 1922).

Jika ruh pendidikan akan dikembalikan maka kembalikan kasih sayang (love and affection), kejujuran (honesty), keikhlasan (sincerity), keagamaan (spiritual) dan kekeluargaan (family atmosphere) dalam praktik pendidikan. Pendidikan harus dilakukan dengan penuh rasa kasih sayang, kejujuran, keikhlasan dan sikap keagamaan dalam suasana kekeluargaan. q - c. (3120-2011).

*) Ki Sugeng Subagya,
Pamong Tamansiswa, Pemerhati
Pendidikan dan Kebudayaan.
(Artikel dimuat SKH Kedaulatan Rakyat, Sabtu 2 Juli 2011).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar