Laman

Kamis, 12 Mei 2011

Daur Ulang Demokrasi (2)

Perangai Penguasa Bebal

Ki Sugeng Subagya

Secara kontekstual, bebal tidak hanya berarti bodoh atau dungu. Tetapi dapat diartikan sebagai sukar mengerti; atau tidak mau mengerti. Bisa juga diartikan sebagai tidak cepat menanggapi sesuatu atau tidak responsif.

Kegaduhan politik yang akhir-akhir ini terjadi di berbagai belahan dunia yang ditandai dengan demontrasi besar-besaran, dapat dikategorikan sebagai perlawanan terhadap sikap dan perilaku bebal. Perlawanan rakyat terhadap Zine El Abidine Ben Ali dari Tunisia, Muhammad Hosni Said Mubarak dari Mesir, dan Moammar Khadafi dari Libya dapat dijadikan indikasi masih berlakunya sikap dan perilaku bebal.

Penguasa yang bebal bisa dianggap sebagai gila kekuasaan dan tidak tahu malu. Meskipun diteriaki agar turun dari kursi kekuasaanya, ia tidak mau turun juga. Segala daya upaya dilakukan untuk tetap bertahan. Tidak kurang cara-cara kotor dan tidak manusiawi, jauh dari akal sehat dan menyesatkan sekalipun ditempuh demi tetap berkuasa. Setelah lama duduk di kursi kekuasaan lalu lupa “berdiri”. Ketika sudah jatuh sekalipun, penguasa bebal akan tetap merasa benar.

Dalam dunia pewayangan, penguasa bebal dipresentasikan dengan sempurna oleh Dasamuka dalam kisah Ramayana, dan Duryudana dalam kisah Mahabarata.

Untuk mendapatkan Dewi Shinta, Dasamuka menghalalkan segala cara. Diculiknya Shinta dengan cara licik. Ketika perang sudah berkecamuk dan rakyat telah menjadi korban perang, pantang mundur barang sejengkal. Bahkan, ketika seluruh tentara dan rakyatnya habis oleh ganasnya perang, dengan pongah maju sendiri ke medan laga dengan dalih atas kebenaran yang diformulasikannya sendiri.

Demikian halnya Duryudana, dengan dalih kebenarannya sendiri ia merasa memenangi perang bharatayudha. Sebagai prajurit terakhir, akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali maju ke medan laga untuk menjemput ajal. Dalam keadaan sekarat, Duryudana berkata bahwa sesungguhnya yang memenangi perang baratayudha adalah Kurawa. Semua orang yang hidup itu pasti akan mati, maka hidup tidak perlu takut mati. Selayaknya hidup yang tidak lama itu dimanfaatkan untuk bersenang-senang, bergelimang kemewahan dan kemegahan. Jika perlu menuruti nafsu angkara murka. Itu semua pernah dinikmati Kurawa. Sedang Pandawa, selama hidupnya dalam keadaan terlunta-lunta dan sengsara.

Meskipun setelah bharatayudha Pandawa akan mendapatkan kembali Hastina, tetapi mereka akan tetap hidup sengsara. Seluruh harta kekayaan Hastina telah habis diperuntukkan biaya perang. Prajurit dan kaum laki-laki telah terbunuh habis. Kini yang tersisa tinggal infrastruktur yang porak-poranda, anak-anak kecil, janda tua, orang jompo, dan sebagian kecil laki-laki bekas prajurit dalam tawanan yang dalam keadaan sakit parah. Diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk memulihkan keadaan. Bukan tidak mungkin harta yang kini dimiliki Pandawa akan habis untuk merekonstruksi Hastina pasca-perang.

Menyikapi logika Duryudana yang “keblinger”, Kresna memberi nasehat kepada Pandawa. Menurut Kresna, apa yang dikatakan Duryudana itu benar, tetapi benar menurut dirinya sendiri. Padahal kebenaran hakiki itu tidak cukup hanya benar menurut diri sendiri, tetapi harus pula benar menurut tuntunan agama, dan benar menurut tatanan hidup bermasyarakat. Itulah kebenaran universal yang harus menjadi karakter ksatriya, seperti Pandawa.

Hal yang menarik untuk dijadikan pelajaran hidup beradab, sebagaimana nasehat Kresna kepada Pandawa, bahwa pemimpin itu berbeda dengan penguasa. Untuk menjadi penguasa tidak perlu berwatak ksatriya, sedangkan Pandawa itu ksatriya, maka ketika berkuasa harus menjadi pemimpin bukan sekadar penguasa.

Tidak semua orang memiliki karakter memimpin jika tidak dipenuhi syarat-syaratnya. Menurut Ki Hadjar Dewantara, dalam pelaksanaan memimpin hanya diperlukan dua syarat. Bagi pemimpin syaratnya adalah “berani dan bijaksana”. Sedangkan bagi yang dipimpin, syaratnya adalah “berani dan setia”. Bagi pemimpin, modal berani saja tidaklah cukup. Keberanian tidak akan efektif tanpa perhitungan dan kebijaksanaan. Demikian pula kebijaksanaan yang tanpa keberanian tidak akan menghasilkan apa-apa. Tanpa keberanian, kebijaksanaan malah menjadi tempat bersembunyi untuk menyelematkan diri sendiri. Hanya orang yang berani yang berhak menentukan kebijaksanaan.

Sebagai kenyataan hidup, memimpin dan dipimpin hendaknya dihadapi secara aanvarding. Hal yang demikian ini Sosrokartono dirumuskan sebagai nrimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana bungah tan ana susah, dan anteng mantheng sugeng jeneng.

Nrimah mawi pasrah tidak berarti nglokro, menerima keadaan secara pasif dan menyerah karena merasa tidak berdaya, melainkan legawa menyerahkan hasil akhir pada kehendak Tuhan. Karena itu sikap yang ditunjukkan adalah menerima kebenaran dengan sabar dan toleran, dan bersedia menerima kebenaran itu jika ia dapat meyakini kebenarannya.

Menyikapi kenyataan hidup sebagaimana adanya adalah dasar bersikap kritis dan obyektif. Sikap yang demikian dibangun bebas dari pengaruh keterikatan terhadap barang atau orang, situasi dan kondisi, bebas dari keinginan memiliki (suwung pamrih tebih ajrih. Tetap tangguh, konsisten dan terpercaya (langgeng) dalam keadaan apapun (tan ana bungah tan ana susah). Tenteram damai (anteng) penuh kegembiaraan dan kegairahan hidup (mantheng) untuk kesejahteraan dan kebahagiaan didi, keluarga, masyarakat, bangsa dan umat manusia serta tertib damainya seluruh alam semesta dan isinya (sugeng jeneng).

Memimpin itu bukan untuk dilayani, tetapi melayani. Memimpin itu bukan untuk berkuasa, tetapi untuk mengabdi. Memimpin itu menyejahterakan, bukan disejahterakan. Memimpin itu tampil didepan saat genting dan berada dibelakang saat aman. Memimpin itu adalah tanggungjawab, bukan hak. Memimpin itu ada saatnya, ketika yang dipimpin tidak berkehendak, turunlah tanpa harus mengorbankan harga diri.

Apakah kisruh PSSI, kemelut koalisi, dan hiruk pikuk pembangunan gedung DPR yang sedang hangat di negeri tercinta juga representasi sedang berlangsungnya hegemoni penguasa dan bukan kearifan pemimpin? Atau, jangan-jangan malah merupakan manifestasi sikap dan perilaku penguasa bebal ? Wallahu'alam bishawab.

Ki Sugeng Subagya,

Pamong Tamansiswa, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar