Laman

Senin, 29 November 2010

Pendidikan Antikorupsi : Konsekuen

Konsekuen : Tetep, Antep, Mantep

Oleh : Ki Sugeng Subagya

Sejak reformasi, obral janji menjadi “booming”. Pemilihan legislatif, Pemilihan Presiden, Pemilihan Gubernur, Pemilihan Bupati/Walikota selalu didahului obral janji. Selama masa kampanye rakyat miskin selalu menjadi sasaran obral janji. Jumlah suara rakyat miskin yang besar sangat dibutuhkan oleh semua calon. Jika nanti terpilih, calon berjanji meningkatkan taraf hidup rakyat miskin menjadi prioritas utama.

Sebenarnya, obral janji menjelang pemilihan umum adalah hal yang wajar dan berlaku di seluruh dunia. Pada umumnya, janji yang diumbar berisi harapan akan kondisi yang lebih baik jika yang bersangkutan memperoleh suara signifikan, memperoleh kursi, atau menang dalam pemilu. Obral janji sering kita dengar dari para calon presiden dan wakil presiden pula.

Tidak kurang Amerika Serikat. Ketika Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan ditanya mengenai janji-janji yang pernah dikemukakannya dalam pemilu, ia menyatakan kampanye merupakan suatu hal, dan memerintah adalah hal lainnya ("to campaign is one thing, and to govern is another thing"). Pernyataan ini merupakan cara mengelak yang cukup jitu terhadap gugatan yang disampaikan masyarakat Amerika karena Reagan dianggap belum atau tidak memenuhi salah satu janji yang pernah dikemukakannya.

Dalam konteks Indonesia, proses penagihan janji kampanye sebenarnya sudah sering terjadi. Penagihan janji tersebut antara lain dilakukan masyarakat yang biasanya merupakan konstituen suatu partai politik dengan cara mendatangi langsung para wakil rakyat dari suatu daerah pemilihan. Menghadapi hal ini, para wakil rakyat ada yang bersikap elitis, namun ada juga yang justru responsif. Bagi yang responsif biasanya muncul jika janji yang dituntut itu tidak terlalu berat untuk dipenuhi.

Belajar dari Hatoyama

Perdana Menteri Jepang, Yukio Hatoyama (63), mengundurkan diri setelah delapan bulan menjabat. Pasalnya, ia merasa tidak dapat menepati janjinya ketika kampanye. Marilah hal ini kita jadikan renungan.

Janji yang diucapkan hendaknya tidak dianggap sebagai penyedap masa kampanye. Mereka harus konsekuen menepati janjinya karena janji adalah hutang yang harus dibayar. Yutio Hatoyama mundur dari jabatannya karena gagal menepati janji kampanyenya yang akan memindahkan pangkalan militer Amerika Serikat di pulau sebelah selatan Okinawa.

Semua calon hendaknya mengambil contoh Yutio Hatoyama. Ia mengundurkan diri dari jabatannya karena tidak bisa menepati janji kampanyenya. Calon yang terpilih harus siap mengundurkan diri jika tidak mampu untuk menepati janji kampanyenya dan bukannya berpura-pura lupa ingatan.

Lebih dari itu, konsekuen terhadap janji yang telah diucapkan sesungguhnya adalah bentuk kematangan jiwa dan kedewasaan berpikir seseorang. Hal ini berlaku pula bagi calon yang kalah. Jika konsekuen, yang kalah harus bisa menerima kekalahannya dengan lapang dada bukannya dengan mengerahkan massa untuk melakukan demonstrasi yang bersifat anarkis.

Ajaran Ki Hadjar Dewantara

Oleh Ki Hadjar Dewantara sikap konsekuen dirumuskan dalam rentetan kata tetep, antep, mantep. Agar sikap tetep mempunyai bobot (antep), sikap itu didasari oleh tanpa pamrih dan penuh rasa tanggungjawab pribadi. Sikap tetep yang antep ini dengan sendirinya mewujudkan kesungguhan (mantep) ialah sungguh-sungguh pantang ingkar.

Sikap tetep yang antep dan mantep, hanya mungkin dimiliki jika didasari oleh keyakinan yang kokoh (ngandel) akan apa yang disebut benar, baik, dan adil. Keyakinan yang kokoh akan membuat kita berani dan tabah (kendel) di dalam menghadapi segala persoalan apapun.

Dengan modal ngandel dan kendel, membuat kita memiliki daya tahan dan kesabaran yang tinggi tak tergoyahkan (bandel) atas keadaan dan kejadian apapun. Akhirnya, jika kita ngandel, kendel, dan bandel maka memungkinkan kita untuk memelihara kedamaian dan ketentraman jiwa, kegembiraaan dan kegairahan hidup (kandel) untuk mengarungi hidup dan kehidupan.

Ternyata untuk konsekuen itu memang tidak mudah. Dasar konsekuen itu sesungguhnya adalah kematangan jiwa yang oleh Ki Hadjar Dewantara dirumuskan dalam rentetan kata tetep, antep, mantep. Bermodalkan tetep, antep, mantep maka keteguhan sikap dan hati yang akan tampak dipermukaan yang disokong oleh ngandel, kendel, bandel, dan kandel. Kesulitan untuk konsekuen pada dasarnya adalah keluhuran budi. Artinya, jika konsekuen itu dilakukan oleh orang yang berbudi luhur maka sesungguhnya bagi dia adalah perkara mudah. Untuk konsekuen itu bukan beban, tetapi adalah tanggungjawab atas apa yang telah diyakininya.

Hikmah

Ada hikmah dari uraian singkat ini. Semua perkara dalam kehidupan sosial, bermasyarakat, berorganisasi, bahkan bernegara itu sebenarnya terpulang pada kesungguhan. Hidup ini bukan permainan, oleh karena itu tidak pada tempatnya kita bermain-main dengan hidup. Untuk mengukur kesungguhan seseorang, maka diperlukan perhitungan cermat sebelum keputusan diambil. Jika keputusan telah diambil, dan ternyata ada resiko yang harus ditanggung setelahnya, itulah konsekuensi dari sebuah tanggungjawab.

Lari dari tanggungjawab, dapat dikategorikan sebagai tidak konsekuen. Demikian pula mencari ”kambing hitam” atas resiko keputusan yang diambilnya juga termasuk tidak konsekuen. Tetapi mengambil tanggungjawab atas resiko yang diperbuat oleh orang lain yang sesungguhnya bukan tanggungjawabnya dapat dikategorikan sebagai “pahlawan kesiangan”.

Akhirnya, agar tetap konsekuen marilah kita tidak ingkar janji. Dan untuk itu pula kita tidak boleh melepas tanggungjawab atau bahkan membebankan resiko tanggungjawab kepada orang lain atas perbuatan kita. Mengakui kesalahan dan kemudian minta maaf adalah salah satu bentuk sikap konsekuen. Memberi maaf kepada yang meminta maaf juga sikap konsekuen yang dilandasi oleh kedewasaan berpikir dan kematangan jiwa. Jika kita melakukan semua ini berdasarkan kesungguhan dan keyakinan mewujudkan sikap tetep, antep, mantep yang disokong oleh ngandel, kendel, bandel, dan kandel maka dengan demikian kita telah mengamalkan ajaran Ki Hadjar Dewantara dalam upaya mewujudkan manusia salam bahagia dan masyarakat tertib damai. Semoga.-

Ki Sugeng Subagya

Pamong Ibu Pawiyatan Tamansiswa dan Konsultan Pendidikan.

Artikel dimuat Majalah SISWA edisi Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar