Laman

Rabu, 08 Juli 2009

Pendidikan Nasional Indonesia


Berpaling kepada Pendidikan Nasional

Ki Sugeng Subagya

Ajakan Menteri Pendidikan Nasional dalam sambutan upacara hari pendidikan nasional tahun 2009 patut diapresiasi. Hendaknya bangsa Indonesia senantiasa meneladani perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara telah meletakkan dasar-dasar dan sendi-sendi pendidikan nasional yang sesuai dengan watak, kepribadian dan kebutuhan bangsa Indonesia. Sedikitnya ada tiga hal penting mengenai dasar-dasar pendidikan nasional, ialah (1) pendidikan jiwa merdeka, (2) pemerataan pendidikan, dan (3) cara pendidikan among.

Disadari benar, perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia tidak segera terwujud oleh karena tidak adanya “jiwa merdeka” pada setiap diri anak bangsa Indonesia. Agar jiwa merdeka itu berkembang, maka harus ditanam pula jiwa nasional. Hanya orang-orang yang berjiwa merdeka saja yang sanggup akan berjuang menuntut dan selanjutnya mempertahankan kemerdekaan.Menanamkan jiwa merdeka dan jiwa nasional seharusnya dimulai sejak kanak-kanak. Syaratnya pendidikan harus memerdekakan dan menuntun terbentuknya semangat nasionalisme. Demikianlah, maka dengan tegas Ki Hadjar Dewantara menamakan perguruan yang didirikannya sebagai Perguruan Nasional Tamansiswa.

Pada masa penjajahan, pendidikan bagi rakyat sangat tidak cukup. Bukan hanya tidak ada kesempatan seluas-luasnya bagi bangsa Indonesia untuk mengenyam pendidikan, tetapi pengajaran yang diberikan sangat tidak sesuai dengan kepentingan bangsa Indonesia. Bahkan pendidikan kolonial telah meracuni jiwa anak-anak Indonesia dengan ditanamkan jiwa budak pengabdi kepentingan kolonial. Sesungguhnya, memeratakan pendidikan jauh lebih penting dari sekadar meninggikannya hanya untuk segelintir orang.

Cara pendidikan among maknanya tergambar dalam ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tutwuri handayani. Cara among merupakan bimbingan (handayani) yang bebas dari paksaan dan ancaman (tutwuri), agar “Sang Anak” menentukan sendiri jalannya yang berguna (utilitas), yang benar (logika), yang baik dan susila (etika), dan yang bagus dan indah (estetika). Cara among bukan berarti pembiarliaran ataupun pemanjaan, tetapi suatu bimbingan yang aktif-kreatif yang didasari oleh pengabdian dan cinta kasih sayang yang jauh dari pamrih.

Kemajuan Pendidikan Nasional
Harus diakui, banyak kemajuan telah dicapai dalam pembangunan pendidikan nasional. Namun untuk mewujudkan pendidikan nasional sebagaimana dasar-dasarnya telah diletakkan oleh Ki Hadjar Dewantara masih memerlukan kerja keras.

Dalam hal menanamkan jiwa merdeka dan membangun nasionalisme, perlu langkah-langkah terobosan strategis. Tidak dapat dipungkiri bahwa era global dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sedikit banyak menghambat penanaman jiwa merdeka. Ketergantungan bangsa Indonesia kepada bangsa lain dalam banyak aspek kehidupan adalah indikatornya. Bahkan orientasi pendidikan nasional kita saat ini sesungguhnya telah berpaling dari dasar dan sendi-sendi pendidikan nasional. Sekolah bertaraf internasional yang dikembangkan seharusnya berpangkal dari penguatan nasionalisme, bukan mengadopsi sistem pendidikan asing untuk diterapkan dalam sistem pendidikan nasional kita.

Pemerataan pendidikan masih menyisakan persoalan tinggginya penyandang buta aksara yang mencapai angka lebih dari 10 %. Kurangnya perhatian pemerintah atas pelayanan dan fasilitasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Berkembangnya sekolah-sekolah ekslusif yang hanya mau menerima siswa dari golongan tertentu saja dan tidak terakomodasinya anak-anak cerdas dari golongan miskin pada sekolah-sekolah bermutu baik, adalah persoalan lain yang perlu segera ditangani.

Meskipun logo Departemen Pendidikan Nasional mencantumkan slogan tutwuri handayani di dalamnya, tetapi makna tutwuri handayani sebagai pendidikan cara among tidak pernah terimplementasikan. Maraknya kekerasan dalam pendidikan, penistaan terhadap guru dan siswa, kecurangan dalam pendidikan, komersialisasi sekolah, dan lain sebagainya, adalah bukti bahwa tugas pendidikan membimbing tumbuh kembangnya “Sang Anak” yang didasari oleh pengabdian dan cinta kasih sayang yang jauh dari pamrih tidak dilakukan. Jangankan anak-anak mampu belajar hidup yang sesungguhnya dari lingkungan sekolah, tetapi dari sekolah ada kalanya anak-anak justeru belajar mengingkari kehidupan bermasyarakat.

Akhirnya, adalah momentum yang tepat apabila pringatan hari pendidikan nasional 2009 ini kita berpaling kembali kepada dasar-dasar dan sendi-sendi pendidikan nasional yang sudah dipancang oleh Ki Hadjar Dewanatara. Kemajuan pendidikan nasional dalam rangka peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan adalah penting, tetapi tidak kalah pentingnya kita harus membangun pendidikan nasional bermutu yang berbasis kepribadian dan kebutuhan bangsa sendiri.-


Ki Sugeng Subagya : Pamong Tamansiswa, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan.

Artikel ini dimuat SKH Kedaulatan Rakyat 5 Mei 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar