Laman

Senin, 23 Maret 2009

JAIPONGAN



Jaipongan sebagai Puncak Kebudayaan Jawa Barat
Ki Sugeng Subagya


Meskipun tari jaipongan termasuk dalam kategori tari kreasi baru, tetapi karena digubah merujuk pada tari tradisi yang sudah ada sebelumnya, maka nuansanya sangat kental dengan pakem tari yang baku.


Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Gubernur Jawa Barat menyampaikan himbauan lisan agar penari jaipongan untuk tidak memakai baju lekbong (baju di atas batas ketiak ke atas) dan mengurangi unsur 3G (goyang, gitek dan geol). Alasannya sederhana, banyak orang yang terganggu melihat penari 'memamerkan' ketiak sambil bergoyang dan cenderung erotis demonstratif yang dapat memicu syahwat. Himbauan itu mendapat respon beragam. Bagi kalangan seniman dan budayawan dianggap sebagai hal yang mengada-ada.
Secara historis, jaipongan adalah sebuah genre tari yang lahir dari olah seni seorang Gugum Gumbira sekitar tahun 80-an. Apresiasi dan pemahaman Sang Maestro terhadap tari tradisi Ketuk Tilu, Kliningan, Bajidoran, Doger, dan Tayub sangat kental mewarnai jaipongan. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak tari tradisi lainnya mengukuhkan pakem jaipongan di kelak kemudian hari.


Keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan dalam arti alami dan apa adanya, adalah ciri khas jaipongan. Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (ibing pola) seperti pada seni jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (ibing saka), misalnya pada seni jaipongan di Subang dan Karawang. Ciri khas inilah yang tergambar dalam gerak tari yang dikenal sebagai three G, ialah gitek, goyang dan geol. Sebagian seniman tari berpendapat bahwa three G adalah ruh jaipongan. Sulit di bayangkan jaipongan tanpa gitek, goyang dan geol.


Sebagai bagian dari pakem sebuah tarian, karakter tari tidak mudah diubah begitu saja. Terlebih ekspresi tari itu tidak mungkin keluar karena pengekangan. Bagaimanapun karakter “gagahan” tidak mungkin diperhalus. Demikian halnya karakter “gecul” ditampilkan dengan “sereng” adalah mustahil.


Jika kemudian three G dan kostum baju lekbong dikategorikan sebagai pengumbar syahwat, tentu hal itu tidak beralasan. Taruhlah tari bedaya di Jawa Tengah dan Yogyakarta sebagai pembanding. Dengan gerakan yang cenderung lamban dan kostum menggunakan kemben, disitulah justeru karya budaya adiluhung terpancar. Meski memakai kemben, bukan berarti sang penari mengumbar syahwat. Faktanya, belum pernah terjadi penikmat tari bedaya terpicu syahwatnya.


Setiap gerak tari sejatinya merupakan perwujudan atau ungkapan filosofis keadaan masyarakat dan gagasan pencipta tarinya. Mengutip Mas Manu Muda, seniman tari Jawa Barat, bahwa setiap gerak tari jaipongan punya makna tertentu. Masyarakat Jawa Barat yang agraris kesehariannya bergelut dengan menanam dan memetik. Keseharian itulah yang digambarkan dalam gerakan tari jaipongan. Kalau iramanya lambat itu perlambang kesabaran. Sedangkan gerakan cepat bermakna wujud rasa syukur. Goyang jaipongan merupakan lambang kesuburan. Jika kemudian gerakan khas jaipongan dibatasi, sama saja membatasi bentuk sabar dan syukur yang tertuang dalam sebuah tari. Padahal budaya tersebut sudah sejak ratusan tahun melekat di masyarakat Jawa Barat.


Memang memaknai karya seni budaya tidak cukup hanya “wantah”, tetapi menggali filosofinya akan mengantarkan kita lebih bijaksana.
Perlu dicatat, kehadiran jaipongan telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat. Dengan munculnya tari jaipongan dimanfaatkan untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari jaipongan. Maka tidak mengherankan pada saatnya tari jaipongan berkembang pesat hampir keseluruh Nusantara. Hal ini mampu mengangkat pamor Jawa Barat ke pentas nasional bahkan internasional dengan ikon jaipongannya. Tidak sedikit sanggar-sanggar tari di luar Jawa Barat yang kemudian menyelenggarakan pelatihan tari jaipongan. Tidak kurang sanggar tari sekaliber Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardjo di Yogyakarta sekalipun, mengembangkan tari jaipongan ini.


Merujuk teori sari-sari dan puncak-puncak kebudayaan Ki Hadjar Dewantara, bahwa sari-sari dan puncak-puncak kebudayaan daerah itulah kebudayaan nasional kita. Sesungguhnya tari jaipongan adalah salah satu sari dan puncak kebudayaan Jawa Barat yang tidak kecil kontribusinya terhadap terwujudnya kebudayaan nasional Indonesia. Semoga.-


Ki Sugeng Subagya
Pamong Tamansiswa, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan tinggal di Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar