Laman

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Ketamansiswaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Ketamansiswaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 November 2010

Pendidikan Antikorupsi : Konsekuen

Konsekuen : Tetep, Antep, Mantep

Oleh : Ki Sugeng Subagya

Sejak reformasi, obral janji menjadi “booming”. Pemilihan legislatif, Pemilihan Presiden, Pemilihan Gubernur, Pemilihan Bupati/Walikota selalu didahului obral janji. Selama masa kampanye rakyat miskin selalu menjadi sasaran obral janji. Jumlah suara rakyat miskin yang besar sangat dibutuhkan oleh semua calon. Jika nanti terpilih, calon berjanji meningkatkan taraf hidup rakyat miskin menjadi prioritas utama.

Sebenarnya, obral janji menjelang pemilihan umum adalah hal yang wajar dan berlaku di seluruh dunia. Pada umumnya, janji yang diumbar berisi harapan akan kondisi yang lebih baik jika yang bersangkutan memperoleh suara signifikan, memperoleh kursi, atau menang dalam pemilu. Obral janji sering kita dengar dari para calon presiden dan wakil presiden pula.

Tidak kurang Amerika Serikat. Ketika Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan ditanya mengenai janji-janji yang pernah dikemukakannya dalam pemilu, ia menyatakan kampanye merupakan suatu hal, dan memerintah adalah hal lainnya ("to campaign is one thing, and to govern is another thing"). Pernyataan ini merupakan cara mengelak yang cukup jitu terhadap gugatan yang disampaikan masyarakat Amerika karena Reagan dianggap belum atau tidak memenuhi salah satu janji yang pernah dikemukakannya.

Dalam konteks Indonesia, proses penagihan janji kampanye sebenarnya sudah sering terjadi. Penagihan janji tersebut antara lain dilakukan masyarakat yang biasanya merupakan konstituen suatu partai politik dengan cara mendatangi langsung para wakil rakyat dari suatu daerah pemilihan. Menghadapi hal ini, para wakil rakyat ada yang bersikap elitis, namun ada juga yang justru responsif. Bagi yang responsif biasanya muncul jika janji yang dituntut itu tidak terlalu berat untuk dipenuhi.

Belajar dari Hatoyama

Perdana Menteri Jepang, Yukio Hatoyama (63), mengundurkan diri setelah delapan bulan menjabat. Pasalnya, ia merasa tidak dapat menepati janjinya ketika kampanye. Marilah hal ini kita jadikan renungan.

Janji yang diucapkan hendaknya tidak dianggap sebagai penyedap masa kampanye. Mereka harus konsekuen menepati janjinya karena janji adalah hutang yang harus dibayar. Yutio Hatoyama mundur dari jabatannya karena gagal menepati janji kampanyenya yang akan memindahkan pangkalan militer Amerika Serikat di pulau sebelah selatan Okinawa.

Semua calon hendaknya mengambil contoh Yutio Hatoyama. Ia mengundurkan diri dari jabatannya karena tidak bisa menepati janji kampanyenya. Calon yang terpilih harus siap mengundurkan diri jika tidak mampu untuk menepati janji kampanyenya dan bukannya berpura-pura lupa ingatan.

Lebih dari itu, konsekuen terhadap janji yang telah diucapkan sesungguhnya adalah bentuk kematangan jiwa dan kedewasaan berpikir seseorang. Hal ini berlaku pula bagi calon yang kalah. Jika konsekuen, yang kalah harus bisa menerima kekalahannya dengan lapang dada bukannya dengan mengerahkan massa untuk melakukan demonstrasi yang bersifat anarkis.

Ajaran Ki Hadjar Dewantara

Oleh Ki Hadjar Dewantara sikap konsekuen dirumuskan dalam rentetan kata tetep, antep, mantep. Agar sikap tetep mempunyai bobot (antep), sikap itu didasari oleh tanpa pamrih dan penuh rasa tanggungjawab pribadi. Sikap tetep yang antep ini dengan sendirinya mewujudkan kesungguhan (mantep) ialah sungguh-sungguh pantang ingkar.

Sikap tetep yang antep dan mantep, hanya mungkin dimiliki jika didasari oleh keyakinan yang kokoh (ngandel) akan apa yang disebut benar, baik, dan adil. Keyakinan yang kokoh akan membuat kita berani dan tabah (kendel) di dalam menghadapi segala persoalan apapun.

Dengan modal ngandel dan kendel, membuat kita memiliki daya tahan dan kesabaran yang tinggi tak tergoyahkan (bandel) atas keadaan dan kejadian apapun. Akhirnya, jika kita ngandel, kendel, dan bandel maka memungkinkan kita untuk memelihara kedamaian dan ketentraman jiwa, kegembiraaan dan kegairahan hidup (kandel) untuk mengarungi hidup dan kehidupan.

Ternyata untuk konsekuen itu memang tidak mudah. Dasar konsekuen itu sesungguhnya adalah kematangan jiwa yang oleh Ki Hadjar Dewantara dirumuskan dalam rentetan kata tetep, antep, mantep. Bermodalkan tetep, antep, mantep maka keteguhan sikap dan hati yang akan tampak dipermukaan yang disokong oleh ngandel, kendel, bandel, dan kandel. Kesulitan untuk konsekuen pada dasarnya adalah keluhuran budi. Artinya, jika konsekuen itu dilakukan oleh orang yang berbudi luhur maka sesungguhnya bagi dia adalah perkara mudah. Untuk konsekuen itu bukan beban, tetapi adalah tanggungjawab atas apa yang telah diyakininya.

Hikmah

Ada hikmah dari uraian singkat ini. Semua perkara dalam kehidupan sosial, bermasyarakat, berorganisasi, bahkan bernegara itu sebenarnya terpulang pada kesungguhan. Hidup ini bukan permainan, oleh karena itu tidak pada tempatnya kita bermain-main dengan hidup. Untuk mengukur kesungguhan seseorang, maka diperlukan perhitungan cermat sebelum keputusan diambil. Jika keputusan telah diambil, dan ternyata ada resiko yang harus ditanggung setelahnya, itulah konsekuensi dari sebuah tanggungjawab.

Lari dari tanggungjawab, dapat dikategorikan sebagai tidak konsekuen. Demikian pula mencari ”kambing hitam” atas resiko keputusan yang diambilnya juga termasuk tidak konsekuen. Tetapi mengambil tanggungjawab atas resiko yang diperbuat oleh orang lain yang sesungguhnya bukan tanggungjawabnya dapat dikategorikan sebagai “pahlawan kesiangan”.

Akhirnya, agar tetap konsekuen marilah kita tidak ingkar janji. Dan untuk itu pula kita tidak boleh melepas tanggungjawab atau bahkan membebankan resiko tanggungjawab kepada orang lain atas perbuatan kita. Mengakui kesalahan dan kemudian minta maaf adalah salah satu bentuk sikap konsekuen. Memberi maaf kepada yang meminta maaf juga sikap konsekuen yang dilandasi oleh kedewasaan berpikir dan kematangan jiwa. Jika kita melakukan semua ini berdasarkan kesungguhan dan keyakinan mewujudkan sikap tetep, antep, mantep yang disokong oleh ngandel, kendel, bandel, dan kandel maka dengan demikian kita telah mengamalkan ajaran Ki Hadjar Dewantara dalam upaya mewujudkan manusia salam bahagia dan masyarakat tertib damai. Semoga.-

Ki Sugeng Subagya

Pamong Ibu Pawiyatan Tamansiswa dan Konsultan Pendidikan.

Artikel dimuat Majalah SISWA edisi Oktober 2010

Ilmu yang Amaliah

Syariat Tanpa Hakikat adalah Kosong,

Hakikat Tanpa Syariat adalah Batal

Ki Sugeng Subagya

“Pedulikah kita pada lingkungan hidup kita?” Pertanyaan reflektif ini dipergunakan membuka tulisan ini dengan ajakan untuk sejenak merenungkan kehidupan lingkungan di sekitar kita. Lebih lanjut tulisan ini akan mengaitkan atas upaya pendidikan lingkungan hidup dengan sikap etis dan tindakan moral manusia.

Lingkungan hidup adalah “konteks” di mana kita hidup dan bertempat tinggal. Apabila lingkungan hidup tersebut terganggu dan mengalami kerusakan, maka kehidupan dan tempat tinggal kita pun akan terusik. Kita semua memiliki tanggungjawab dan kewajiban untuk memelihara dan merawat lingkungan hidup.

Pengelolaan sumberdaya alam untuk pembangunan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi jangka pendek. Karena itu perlu ditetapkan strategi pengelolaan yang menjamin keberlanjutan, keadilan dan berdaya guna tinggi. Upaya untuk meraih strategi tersebut dijembatani dengan pembekalan para pelaku secara berkesinambungan.

Program Pendidikan Lingkungan menyangkut skala yang sangat luas, sehingga perlu partisipasi dan kerjasama berbagai pihak, agar hasilnya optimal dan bebas konflik. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian anak terhadap lingkungan melalui kegiatan teori dan praktik dalam bentuk teori, diskusi, permainan, serta observasi lapangan dan menanamkan nilai-nilai konservasi alam dan lingkungan sedini mungkin pada siswa dan meningkatkan kepedulian siswa terhadap konservasi alam dan lingkungan sejak dini.

Generasi muda menjadi asset pembangunan masa depan yang harus diprioritaskan. Dengan membekali mereka tentang nilai-nilai etika lingkungan yang sangat penting untuk membekali moralnya agar bijaksana dalam memperlakukan lingkungan hidupnya. Generasi muda, sebagai aset pelaku pembangunan di masa mendatang, perlu mendapatkan prioritas utama dalam menerima Pendidikan Lingkungan, agar sejak dini mereka faham akan hubungannya dengan lingkungan hidupnya.

Pendidikan Lingkungan akan menjamin terjadinya suasana yang harmonis antara manusia dengan alamnya, sehingga di alam tidak akan muncul kekhawatiran terhadap bencana yang akan melanda. Marilah kita pekakan hati dan perilaku generasi muda bangsa kita pada etika lingkungan yang benar. Biarlah hati mereka peka akan kelestarian lingkungan, agar kelak Indonesia boleh lestari kembali dengan berjuta kekayaan alamnya yang luar biasa indahnya. Hutan adalah 'sahabat' kita, yang harus selalu terjaga kebersamaannya dengan kita.

Penyelesaian terhadap krisis-krisis lingkungan tidak sekedar melalui pendekatan teknis saja, tetapi juga melalui pendekatan moral. Dengan membangun moral yang baik, akan menjadi modal utama bagi manusia untuk berperilaku etis dalam mengatur hubungan antara dirinya dengan alam semesta. Penyelesaian masalah lingkungan tidak dapat dilakukan secara sepihak. Hal ini disebabkan karena sifat interdependency yang melekat pada lingkungan hidup menuntut kerjasama multipihak secara serentak dan menyangkut seluruh lapisan masyarakat. Pentingnya kelestarian lingkungan hidup untuk masa sekarang hingga masa yang akan datang, secara eksplisit menunjukkan bahwa perjuangan manusia untuk menyelamatkan lingkungan hidup harus dilakukan secara berkesinambungan, dengan jaminan estafet antargenerasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penanaman pondasi pendidikan lingkungan sejak dini menjadi solusi utama yang harus dilakukan, agar generasi muda memiliki bekal pemahaman tentang lingkungan hidup yang kokoh. Pendidikan Lingkungan diharapkan mampu menjembatani dan mendidik manusia agar berperilaku bijak.

Berbagai referensia menyatakan, masa anak-anak merupakan perjalanan yang kritis, sebagai generasi bangsa di masa mendatang. Jika pengetahuan dan cara yang ditanamankan pada masa kanak-kanak itu benar, dapat diharapkan ketika berubah ke masa remaja dan dewasa, bekal pengetahuan, pembentukan perilaku serta sikap dalam dirinya terhadap sesuatu akan positif.
Masa remaja dan dewasa pada dasarnya merupakan masa mencari identitas dan realisasi diri. Pada masa ini sering sangat sulit untuk mengubah wawasan dasar yang telah terpola dan melekat dalam dirinya sejak kecil.

Dengan demikian sangatlah strategis pembekalan pengetahuan dasar tentang lingkungan hidup sejak dini melalui anak-anak secara terprogram dan berkelanjutan, hingga pada saatnya akan tercipta insan-insan pribadi bangsa yang utuh. Lantas, bagaimana format pendidikan lingkungan untuk generasi muda? Para ahli pendidikan menyatakan bahwa pendidikan lingkungan kepada generasi muda dapat dilakukan lewat jalur pendidikan formal dan informal. Pendidikan Lingkungan secara formal dilakukan melalui kurikulum sekolah dan pemanfaatan potensi lingkungan yang ada di sekitarnya. Bentuk materi dapat dikemas secara integratif di dalam mata pelajaran sekolah, atau dikembangkan sebagai materi yang berdiri sendiri sebagai mata ajaran muatan lokal. Penyelenggaraan paket pendidikan ini dapat bersifat outdoor education menyatu dengan alam.

Implementsinya ?

Secara konsepsional, pendidikan etika lingkungan adalah bagian integral dari pendidikan budi pekerti luhur, sebagai pendidikan etika yang lainnya. Hanya, akhir-akhir ini terdapat problematika implementasi pendidikan budi pekerti luhur. Apakah berupa pengajaran budi pekerti atau dengan cara yang lain ? Terlebih sejak dicanangkan gerakan pendidikan berkarakter sejak Mei 2010 lalu. Banyak pihak menjadi sedikit kebingungan mempraktikan pendidikan budi pekerti luhur.

Sebenarnya Ki Hadjar Dewantara tidak pernah menyelenggarakan pendidikan budi pekerti luhur dalam bentuk pengajaran. Hal ini atas pertimbangan agar tidak terjadi kesalahan persepsi. Jika pendidikan budi pekerti diajarkan sebagai pengajaran, maka harus ada guru matapelajaran, kurikulum, sistem penilaian, dsb. Hal ini bisa berakibat pendidikan budi pekerti mekanistik-intelektualistik. Pembentukan budi pekerti luhur seolah-olah dapat diciptakan dalam sekejap. Tanggungjawab mendidik budi pekerti hanya tertumpu pada seorang guru.

Sebelum pemerintah melakukan penyeragaman kurikulum secara nasional, Tamansiswa menyelenggarakan pendidikan budi pekerti dengan strategi dan caranya sendiri. Implementasinya bertumpu pada keteladanan. Semua pamong Tamansiswa adalah figur teladan. Semua pamong bertanggungjawab atas implementasi pendidikan budi pekerti.

Sejak tahun 1969, saat pemerintah menetapkan kurikulum secara nasional, menyebabkan pendidikan budi pekerti dengan strategi keteladanan lambat laun hilang dan akhirnya terjebak dalam pengajaran budi pekerti yang mekanistik. Dalam perkembangan yang terakhir, melalui konsep pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti diformulasikan dalam pengajaran secara kurikuler. Setiap matapelajaran dimuati konsep-konsep pendidikan budi pekerti dalam tataran pengetahuan.

Jika pendidikan budi pekerti sudah menjadi pengajaran, kiranya perlu diperhatikan pesan Ki Hadjar Dewantara. Secara prinsip pengajaran budi pekerti hanyalah bagian dari pendidikan budi pekerti. Oleh sebab itu pengajaran budi pekerti tidak boleh dianggap lebih penting daripada pendidikan budi pekerti.

Selain itu, pengajaran budi pekerti hendaknya disesuaikan dan dihubungkan dengan tingkatan-tingkatan perkembangan yang ada di dalam jiwa peserta didik. Tingkatan-tingkatan tersebut analog dengan metode tradisi pembelajaran agama Islam, yang sejak lama telah dikenal, ialah syariat, hakikat, tarikat, dan makrifat.

Pengajaran syariat dipakai untuk pengajaran anak-anak kecil dan harus diartikan sebagai pembiasaan untuk bersikap dan bertingkah laku menurut kelaziman dan peraturan yang berlaku. Guru berperan memberikan contoh, anjuran, perintah dimana perlu. Jika anak berbuat kesalahan, Guru harus menegur untuk memperbaiki.

Tingkatan hakikat dimaknai sebagai kenyataan atau kebenaran, yang mengandung maksud untuk memberikan pengertian dan kesadaran akan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Pengajaran hakikat diperuntukkan bagi anak-anak usia “akil baliq”. Karena pada usia ini anak-anak telah berkembang akal pikirannya, maka memberi keinsyafan kesadaran atas kebaikan harus didasarkan pada pengetahuan, kenyataan, dan kebenaran. Alasan-alasan logis dan latar belakang yang masuk akal adalah landasan penjelasnya. Hal ini untuk mengantisipasi jangan sampai anak-anak terus terikat pada pembiasaan yang tidak mengetahui akan maksud dan tujuan pembiasaan itu. “Syariat tanpa hakikat adalah kosong, dan hakikat tanpa syariat adalah batal”. Artinya untuk melakukan sesuatu harus tahu maksud hal itu dilakukan, di lain pihak untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik harus didasari oleh pengetahuan cukup.

Tingkatan tarikat merupakan “laku”, ialah perbuatan yang sengaja dilakukan dengan maksud supaya melatih diri untuk melakukan kebaikan, bagaimanapun berat dan sukarnya perbuatan itu. Inilah latihan bagi anak-anak yang mulai dewasa. Ada kalanya perbuatan kebaikan itu harus dengan memaksa, menekan, memerintah untuk menguasai diri pribadi. Dalam pendidikan, latihan-latihan inilah yang pada gilirannya akan menghasilkan sikap dan perilaku swa-disiplin.

Jika anak-anak sudah dewasa benar, maka tingkatan makrifat harus diterapkan. Makrifat berarti faham benar-benar. Disinilah waktunya, agar anak-anak yang sudah benar-benar dewasa tidak terombang-ambing oleh keadaan yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Keragu-raguan melangkah oleh karena kekosongan jiwa sering menimpa seseorang yang tidak mampu mencapai makrifat. Jika makrifat sempurna, maka anak-anak akan mengerti hubungan antara tertibnya lahir dan damainya batin. Faham terhadap resiko atas pilihan-pilihan yang diambilnya, adalah kesediaan dalam mengambil tanggungjawab.

Substansi pendidikan budi pekerti pada saatnya harus dikembalikan pada dasar-dasar filosofis idealismenya. Jika saat ini pendidikan budi pekerti dioperasionalisasikan sebatas pengajaran budi pekerti hendaklah difahami semata-mata sebagai langkah darurat untuk membendung kemerosotan moral yang sedang terjadi. Sampai kapanpun guru harus “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tutwuri handayani”. Inilah makna hakiki pendidikan budi pekerti yang dibangun dasar-dasarnya oleh Ki Hadjar Dewantara.

Oleh karenanya penanaman etika lingkungan sebagai bagian dari pendidikan budi pekerti luhur memerlukan sinergitas antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam hal tersedianya figur teladan sebagai panutan. Hal ini agar pemahaman etika lingkungan tidak terjebak dalam “Syariat tanpa hakikat adalah kosong, dan hakikat tanpa syariat adalah batal”.

Ki Sugeng Subagya,

Pamong Ibu Pawiyatan Tamansiswa dan Konsultan Pendidikan.-


Artikel dimuat Majalah SISWA edisi September 2010.

Rabu, 08 September 2010

Berjuang Menjadi Lebih Baik

“Ngenthung”; Berjuang dalam Diam

Oleh : Ki Sugeng Subagya

Memasuki bulan Agustus tahun 2010 terasa sangat istimewa. Nuansa patriotik sangat terasa begitu masuk kampung dan dusun-dusun. Disana-sini banyak orang bekerja bakti membersihkan lingkungan, memasang berbagai atribut memperindah wajah lingkungan. Berbagai kegiatan pertandingan dan perlombaan menambah riuhnya suasana. Semua terlibat. Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak tidak ada yang ketinggalan. Pendek kata semua warga terlibat menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-65 Republik Indonesia.

Bertepatan dengan itu, memasuki minggu kedua bulan Agustus 2010, umat muslim di seluruh dunia memulai ibadah wajib menunaikan puasa Ramadhan. Kegiatan masyarakat menjelang datangnya bulan Ramadhan tidak kalah gempitanya. Tidak kurang kegiatan-kegiatan berdasar syariah, tradisi, kelaziman, kebiasaan, seolah menjadi satu prosesi menyambut datangnya tamu agung, puasa ramadhan.

Dengan menyandingkan dua kegiatan, ialah hiruk pikuk memperingati proklamasi kemerdekaan dan menyambut datangnya puasa ramadhan, ada satu benang merah hikmah. Ialah, keduanya bermakna perjuangan. Disatu pihak bermakna nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari cengkeraman kuku-kuku penjajahan. Sedang di pihak lain perjuangan melawan hawa nafsu yang dapat membatalkan puasa.
Memaknai hikmah berjuang melawan penjajahan dan melawan hawa nafsu, terdapat ajaran Ki Hadjar Dewantara yang pantas direkonstruksi kembali. Ialah “ngenthung”.

Ngenthung kedengaranya asing di telinga, namun begitulah enaknya bikin suatu topik tulisan, yang asing buat pembacanya tetapi memiliki makna mendalam setelah diurai. Ngenthung itu salah satu kata kerja dalam bahasa Jawa. Berasal dari kata dasar enthung, atau kepompong, yang mendapat awalan “nga” atau “hang”. Kalau digabungkan menjadi “hang-enthung”, atau ngenthung. Dengan demikian “ngenthung” dapat diartikan sebagai bertindak atau berlaku seperti enthung atau kepompong. Demikianlah “ngenthung”, yang bermakna berjuang meskipun tampak dalam keadaan diam.

Sebagai Alat Perjuangan

Ki Hadjar Dewantara mekakukan “ngenthung” sebagai alat perjuangan melawan penjajahan. Tepatnya sebagai strategi perjuangan. Strategi ini diterapkan Ki Hadjar Dewantara pada saat menghadapi tekanan penjajahan Jepang.

Pemerintah kolonial Jepang sangat khawatir berkembangnya sekolah-sekolah partikelir (swasta) yang sangat pesat. Sekolah-sekolah ini diperuntukkan mencerdaskan rakyat pribumi dengan muatan semangat kebangsaan atau nasionalisme. Bukan tidak mungkin jika rakyat memiliki pengetahuan cukup karena mengenyam pendidikan yang memadai, pada saatnya akan tumbuh kehendak untuk melawan pemerintah kolonial. Ujung-ujungnya, mereka akan berjuang untuk meraih kemerdekaan.

Upaya pemerintah kolonial Jepang menghentikan “pemintaran” rakyat dilakukan dengan kebijakan yang tidak tanggung-tanggung. Ditutuplah semua sekolah yang didirikan dan diusahakan oleh pribumi. Hanya sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial yang diijinkan beroperasi. Hal ini jelas tidak memadai untuk kepentingan rakyat yang sedang berjuang menggapai kemerdekaan bangsanya. Demikianlah memang tujuan ditutupnya sekolah-sekolah pribumi agar rakyat tetap dalam keadaan bodoh, miskin, dan terbelakang sehingga mudah diatur oleh penjajah.

Tidak kurang, saat itu sekolah-sekolah Tamansiswa juga harus ditutup. Atas kehendak kuat memerdekakan bangsanya, celah sekecil apapun dimanfaatkan Ki Hadjar Dewantara. Ketika sekolah-sekolah ditutup dan ada kemungkinan diijinkan menyelenggarakan kursus pertanian, maka diselenggarakan kursus pertanian oleh Ki Hadjar Dewantara dengan nama “Taman Tani”. Meskipun bentuknya kursus, muatan-muatan pendidikan dan pengetahuan umum diberikan pula secara diam-diam. Dengan “Taman Tani”, di permukaan yang tampak adalah diam tanpa gerakan, tetapi di dalamnya sesungguhnya itu adalah konsolidasi perjuangan menggapai kemerdekaan.

Falsafah “ngenthung” sebagai strategi perjuangan Ki Hadjar Dewantara dilandasi oleh Neng, Ning, Nung, Nang. Ialah, Meneng-Wening-Hanung-Menang atau Wenang. Meneng atau diam, ialah tercapainya ketenteraman lahir yang dapat dirasakan oleh suasana fisik antara lain tidak gaduh, tidak emosi, tidak membentak, tidak judes, tidak ngambek, tidak mencoret-coret tulisan di tembok, tidak melampiaskan dendam. Apabila suasana Neng ini bisa dicapai, maka orang sekeliling akan simpati dengan kita. Sebaliknya dengan bersikap gaduh misalnya membentak, teriak, emosi, ketus, demonstrasi hingga jalanan macet, maka orang tidak akan simpati kepada kita. Menghadapi persoalan dengan mengedepankan Neng berarti dalam keadaan tenang, wajar selanjutnya tidak pula menyulut emosi pihak lain yang tidak perlu.

Wening atau jernih, ialah tercapainya ketenteraman batin yang dirasakan oleh rasa kalbu dan nurani yang jernih. Untuk mencapai rasa wening di hati orang sering beriktifar “astagfirullah” atau “puji Tuhan”. Kemudian berupayalah berpikir yang rasional tidak emosional, cara menyampaikan masalah dengan bahasa yang logik dan runtut sehingga akan menarik simpati orang lain. Suasana wening ini juga lebih kondusif memberi ide-ide penyelesaian masalah sesuai dengan nurani kemanusiaan dalam ajaran agama.

Hanung atau agung, ialah kebesaran jiwa dan luasnya wawasan, namun dapat pula dengan konotasi kebesaran/kekuatan raga (fisik). Kebesaran jiwa tercermin dengan sikap ikhlas menerima kritik orang lain, tidak berpandangan sempit, tidak fanatik, tidak apatis, tidak apriori, tidak mengadu domba, tidak temperamental. Sikap hanung juga berkonotasi bersikap optimis tidak pesimis, yaitu selalu memandang hari depan dengan penuh harapan dan jiwa besar. Sikap hanung mementingkan tujuan hari depan dengan lebih visioner daripada mengungkit aib masa lalu yang tidak perlu.

Menang, ialah kemenangan moral dan atau kemenangan fisik. Kemenangan yang dicapai setelah Neng, Ning, dan Nung tidak menyakitkan hati pihak seberang. Menang dengan tidak mengalahkan, “menang tanpo ngasorake” ialah kemenangan yang tidak dengan menghinakan pihak lain atau setidaknya pihak lain merasa kalah atau dikalahkan. Dalam bahasa manajemen, inilah yang disebut sebagai win-win-solution. Menang dapat berarti mampu menghadapi kesulitan, ujian, penindasan, penyelewengan, penghinaan, kebodohan, kemiskinan, godaan, kemusrikan, kemungkaran, kebatilan, kezaliman ataupun mengungguli taktik lawan. Dalam kontosai yang seperti ini, lalu Nang diberi makda Wenang, ialah kuasa yang tidak untuk menguasai.

Belajar dari Metamorfosis

Enthung atau kepompong dapat dikatakan jelmaan dari ulat. Ulat, pada umumnya memiliki bentuk yang tidak menarik, jelek, bahkan tidak sedikit yang menakutkan. Jangankan memegang atau menyentuhnya, banyak orang yang baru melihat saja sudah merasa gatal-gatal di sekujur tubuh.

Bukan saja rupanya yang buruk, ulat ternyata juga mempunyai perangai tidak terpuji. Salah satunya ialah rakus. Apapun dilahapnya sampai habis tidak tersisa. Oleh sebab itu kaum tani mengkategorikan ulat sebagai hama yang harus dibasmi.

Melalui proses metamorphosis, kepompong “ngenthung” untuk menjadi makhluk yang lebih baik. Selama 41 hari prihatin dengan laku puasa memohon ridha Illahi sekaligus melakukan pertobatan atas kelakuannya ketika menjadi ulat. Tingkah polah kepompong dalam laku prihatin dengan menutup diri dalam balutan daun-daun kering ala kadarnya dan hanya bisa menggerakan kepalanya.

Menjalankan ibadah puasa ramadhan dapat dianalogikan dengan “ngenthung”. Dengan mendekatkan diri semata-mata meminta ridha Illahi, niscaya kaum muslimin dan muslimah mampu menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Jika selama sebulan penuh manusia mampu menemukan jati dirinya dalam hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Penciptanya, manusia akan mengalami masa metamorfosis dalam kehidupan jiwa yang lebih menyejukkan. Jika sebelum puasa ramadhan sikap dan perilakunya seperti ulat, maka selepas puasa serta merta akan menyerupai kupu-kupu. Jika semula menakutkan, kemudian menjadi menarik hati. Jika semula apapun dimakannya dengan rakusnya, maka selepas puasa hanya makan makanan yang halal. Kebaikan hatinya diwujudkan dalam hal dimana dia berada selalu memberikan bantuan kepada yang mendekatinya. Dimana dia berada selalu menebar pesona kebaikan dan keindahan.

Atas ijin Illahi, ulat yang menakutkan bisa menjadi kupu-kupu yang menarik hati jika lulus dalam pertapaan “ngenthung”-nya. Dari ulat menjadi kupu-kupu, memerlukan suatu proses yang disebut ‘Metamorfosis”. Apa itu metamorfosis ?. Metamorfosis melibatkan perubahan radikal dari hewan muda menjadi hewan dewasa. Hewan muda, dikenal sebagai larva, hidup dalam cara yang berbeda dengan hewan dewasa.
Ada dua peristiwa metamorphosis, ialah (1) metamorfosis tak sempurna, seperti yang kita lihat pada transformasi kecobong menjadi katak, melibatkan sejumlah perubahan bertahap tetapi tidak sempurna. (2) metamorfosis sempurna, seperti pada perubahan ulat menjadi kupu-kupu, berlangsung dalam kepongpong dan menyusun ulang bagian tubuh secara total. Kupu-kupu memulai hidup sebagai telur.

Ulat merayap keluar dari telur, makan dengan lahap, dan menyelongsong (melepaskan kulit) sewaktu bertambah besar. Setelah sekitar empat minggu, ulat melekatkan dirinya sendiri dengan benang sutra ke cabang pohon. Ulat menggeliat keluar dari kulitnya, menampakkan kepongpong lunak yang kemudian mengeras. Beberapa minggu kemudian kepongpong pecah dan kupu-kupu dewasa keluar.


Hikmah

Untuk berhasil atau sukses, tidak jarang orang harus mekakukan perjuangan dengan tantangan yang luar biasa beratnya. Adakalanya tantangan itu berupa hambatan dimana tidak ada celah lagi bagi orang untuk mengaktualisasi kekuatannya. Dalam tataran itulah, upaya terakhir harus ditempuh, ialah berjuang dalam diam sebagaimana “ngenthung” yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara.

Disamping itu, saatnya kita melakukan evaluasi diri. Apakah banyak orang mau bergaul dengan kita? Ataukah sebaliknya banyak orang merasa "alergi" dengan kita? Apakah kita pribadi yang dibenci ataukah kita pribadi yang dicintai? Apakah hidup kita hanya menjadi sandungan, atau hidup kita menjadi berkat? Apakah kita seekor ulat ataukah kita sudah berubah menjadi seekor kupu-kupu?

Jika ingin menjadi pribadi yang menarik, disukai banyak orang, sekaligus menjadi berkat bagi banyak orang, maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali berubah. Kabar baiknya, setiap ulat yang menjijikan memiliki kesempatan untuk menjadi kupu-kupu yang indah jika mau berubah.

Akhirnnya, Dirgahayu Republik Indonesia. Selamat Memperingati Hari Ulang Tahun ke-65 Republik Indonesia. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramdhan 1431 H., bagi yang menjalankannya.


Ki Sugeng Subagya
Pamong Ibu Pawiyatan Tamansiswa dan Konsultan Pendidikan.

Kamis, 05 Agustus 2010

Nama Kecil Orang Besar


MUHAMMAD DARWISY DAN SUWARDI SOERJANINGRAT


Oleh : Ki Sugeng Subagya


Di Yogyakarta, bulan Juli 2010 menjadi pusat perhatian masyarakat. Sebagaimana setiap tahun terjadi, bertepatan dengan liburan sekolah, rombongan wisatawan domestik banyak berkunjung ke Yogyakarta. Kawasan Malioboro, Parangtritis, Kraton Yogyakarta, dan obyek wisata lainnya dipenuhi wisatawan. Saat itu juga bertepatan dengan masih berlangsungnya Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang digelar sebulan penuh. Pusat kegiatan FKY yang tepat di jantung kota Yogyakarta, menambah riuhnya kesibukan kota pelajar dan kota budaya ini.

Tidak kalah hiruk pikuknya, pada tanggal 3 sampai dengan 8 Juli 2010 digelar muktamar 1 abad Muhammadiyah. Pembukaan muktamar dilakukan dengan gegap gempita. Stadion Mandala Krida Yogyakarta, sebagai tempat pembukaan dijubeli ratusan ribu orang. Di luar stadion sampai radius lebih dari tiga kilometer orang masih hiruk-pikuk lalu-lalang. Hampir semua jalanan dalam kota Yogyakarta macet total. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka muktamar dengan pidato secara teleconfrence dari Jedah Arab Saudi.

Bertepatan dengan pembukaan muktamar 1 abad Muhammadiyah, keluarga besar Persatuan Tamansiswa memperingati hari lahir Tamansiswa. Sejak tanggal 3 Juli 1922 sampai 3 Juli 2010 Tamansiswa telah mencapai hitungan tahun yang ke-88. Ulang tahun Tamansiswa kali ini terasa istimewa, karena bertepatan dengan usia 11 windu atau 88 tahun.

Begitupun, tulisan ini tidak akan membahas lebih lanjut tentang kemeriahan Muktamar 1 abad Muhammadiyah dan 11 windu peringatan hari lahir Tamansiswa. Perhatian penulis, justeru kepada pendiri Muhammadiyah dan Tamansiswa. Ialah, Muhammad Darwisy dan Suwardi Soerjaningrat. Muhammad Darwiys adalah nama kecil KH Achmad Dahlan, pendiri dan pemimpin Muhammadiyah. Sedangkan Suwardi Soerjaningrat adalah nama kecil Ki Hadjar Dewantara, pendiri dan pemimpin Tamansiswa.

Nama ketika kanak-kanak tokoh besar ini sengaja dijadikan judul tulisan ini bukan tanpa maksud. Keduanya adalah ”Anak Yogya” masa lampau yang kebesarannya hingga kini masih dikenang. Meskipun mereka tokoh besar, tetapi kedekatan dan upayanya mengangkat ”wong cilik” agar lebih sejahtera adalah perhatian utama perjuangannya. Keduanya menggunakan pendidikan sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Muhammad Darwisy
Muhammad Darwisy dilahirkan dari kedua orang tuanya, yaitu KH. Abu Bakar (seorang ulama dan Khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri dari H. Ibrahim yang menjabat sebagai penghulu kesultanan juga). Ia merupakan anak ke-empat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa.

Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil yang mengajarinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.

Pada usia 20 tahun, Muhammad Darwisy berganti nama menjadi KH Ahmad Dahlan.

Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad.

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Kelak, Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikannya menjadi besar dan mashur.

Suwardi Soerjaningrat
Suwardi adalah seorang bangsawan. Ia putera Pangeran Soerjaningrat yang lahir pada tanggal 2 mei 1989. Pangeran Soerjaningrat adalah putera KGPAA Paku Alam III. Sedang KGPAA Paku Alam III adalah putera Sri Sultan Hamengku Buwono II. Dengan demikian, Suwardi adalah cucu KGPAA Paku Alam III dan cicit Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Sejak kecil Suwardi memperoleh pendidikan agama Islam secara privat di rumah dengan memanggil guru mengaji. Tahun 1904, tamat Euroeesche Lagere School (ELS) dan meneruskan ke Kweekschool atau Sekolah Guru di Yogyakarta selama satu tahun. Pelajarannya diteruskan ke sekolah dokter Jawa atau School tot Opleiding voor Inlandche Arsten (STOVIA) di Jakarta. Namun sayang, tidak sempat menamatkan sekolahnya.

Selama menjadi mahasiswa STOVIA, Suwardi banyak berkjenalan dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo. Melalui para tokoh yang dikenalnya itu, Suwardi menimba banyak pengalaman berorganisasi.

Jurnalistik adalah lapangan yang digelutinya kemudian. Aktif mengurus dan menulis di surat kabar Sedyotomo dan Midden Java adalah awal kiprahnya. Selanjutnya, pada tahun 1912 diminta Deuwes Dekker pindah ke Bandung untuk mengurus surat kabar De Expres. Selain itu, juga menjadi anggota redaksi harian Kaum Muda, Utusan Hindia, Tjahaja Timur, dan Het Tijdscrift. Kegiatan jurnalistik akhirnya dijadikan sebagai alat perjuangan. Puncaknya, atas nama Komite Boemi Poetra, Suwardi menulis brosur dengan judul “Als ik eens Nederlander was ……” (Seandainya aku seorang belanda ……). Isi brosur itu adalah kritik sangat tajam terhadap pemerintah Belanda yang akan merayakan kemerdekaannya, sedangkan ia sendiri masih menjajah tanah Indonesia.

Tulisan brosur Suwardi memicu tulisan-tulisan tajam selanjutnya. Tak pelak pemerintah segera melakukan tindakan menangkap para penulisnya. Tjipto Mangunkusumo, Deuwes Dekker, dan Soewardi akhirnya diasingkan ke Negeri Belanda. Dalam pengasingan, Suwardi belajar dan tetap berjuang untuk Indonesia Merdeka.

Sekembalinya di tanah air, perjuangan Suwardi untuk Indonesia tidak semakin surut. Melalui pers dan organisasi politik kegigihannya semakin menggebu. Akibatnya ruang penjara menjadi langganannya sebagai tahanan politik.

Dalam suatu kesempatan, timbul sebuah gagasan dalam suatu diksusi kaum intelektual. Ternyata untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan tidak cukup hanya dengan kekuatan politik. Tetapi harus ditopang dengan gerakan pendidikan rakyat untuk menebar benih jiwa merdeka. Untuk itulah maka Suwardi ditugasi menyelenggarakan pendidikan menebar benih jiwa merdeka pada anak-anak. Dan kemudian didirikanlah Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922.

Perguruan Nasional Tamansiswa berkembang pesat. Semula hanya ada di Yogyakarta, dalam kurun waktu 10 tahun telah berkembang menjadi lebih dari 42 cabang baik di Jawa maupun di luar Jawa. Keadaan yang demikian dianggap membahayakan bagi pemerintah kolonial. Untuk melumpuhkan semangat sekolah-sekolah Tamansiswa diterbitkan Onderwijs Ordonantie, ialah Undang-undang tentang sekolah liar. Tamansiswa menentang Undang-undang itu. Perjuangan Tamansiswa ternyata berhasil. Pada tahun 1933 Onderwijs Ordonantie dicabut.

Pada usia 40 tahun atau 4 windum, Suwardi berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Kelak nama ini menjadi sangat mashur dan dikenal banyak orang.

Hikmah
Apa yang dapat dipetik dari uraian singkat di atas ? Tentu sangat banyak suri tauladan yang dapat diambil. Setidaknya, ada pelajaran berharga, bahwa untuk menjadi besar bukan berarti tanpa hambatan. Untuk sukses bukan berarti tidak ada tantangannya. Niat dan keinginan tulus nan mulia belum tentu dipersepsikan tulus dan mulia oleh orang lain. Jika ada pihak yang dirugikan, tentu mereka akan menyusun kekuatan untuk melakukan perlawanan.

Jika para orangtua memberikan nama kepada anak-anaknya, sesederhana apapun nama itu akan memiliki makna yang dahsyat apabila yang memiliki nama tersebut mempunyai sikap dan perilaku terpuji. Sikap dan perilaku terpuji akan semakin lengkap apabila disertai dengan pengorbanan untuk kemaslahatan orang banyak, terlebih orang-orang yang dalam kesulitan. Sebagus apapun nama diberikan, jika ternyata yang memiliki nama tidak mampu menjaga sikap perilaku terpujinya, niscaya nama itu tidak akan bermakna apa-apa.

“Apalah arti sebuah nama”, ujar sang pujangga, William Shakespeare. Tentu saja, nama sebaik apapun tidak akan membuat sang empunya nama menjadi baik pula. Setidaknya, tidak secara langsung. Jika dikemudian hari namanya menjadi sangat mashur, tentu karena budi mulianya yang dikenang.

_______________________

Artikel ini dimuat Majalah SISWA NUSANTARA edisi Juli 2010.

Minggu, 20 Juni 2010

Pendidikan Ketamansiswaan

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA :

Peran Ki Hadjar Dewantara dan Rekonsiliasi Nasional

Oleh : Ki Sugeng Subagya


Banyak orang mengatakan bahwa bulan Juni adalah bulan-nya Bung Karno. Itu lho, Bapak proklamasi dan presiden pertama Republik Indonesia, DR. Ir. Soekarno. Betapa tidak, coba kita perhatikan: tanggal 6 Juni (1901) Bung Karno dilahirkan, tanggal 2 Juni (1970) beliau wafat. Dan yang tidak boleh dilupakan, pada tanggal 1 Juni (1945) Bung Karno menyampaikan pidato tentang Pancasila, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).



Hakikat isi pidato itulah yang sampai sekarang dikenal sebagai Pancasila dasar Negara Republik Indonesia. Ternyata, ada peran yang tidak kecil dari Ki Hadjar Dewantara atas rumusan pidato Bung Karno tersebut, terkait dengan lahirnya Pancasila. Untuk itu, sembari bermaksud memperingati hari lahir Pancasila, ada baiknya diungkap kembali peran Ki Hadjar Dewantara atas lahirnya Pancasila dan hikmah apa yang dapat dipetik dari peringatan tersebut

.

Cuplikan Sejarah

Perjuangan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah, sampai dengan tahun 1908 boleh dikatakan selalu mengalami kegagalan. Meskipun penjajahan Belanda berakhir pada tahun 1942, tetapi sejak saat itu pula Indonesia diduduki oleh bala tentara Jepang.

Masa penjajahan Jepang tidak terlalu lama, oleh karena pada tahun 1944, tentara Jepang mulai kalah dalam perang melawan Sekutu. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia agar bersedia membantu Jepang dalam melawan tentara Sekutu, Jepang memberikan janji kemerdekaan di kelak kemudian hari. Janji ini diucapkan oleh Perdana Menteri Kaiso pada tanggal 7 September 1944.


Oleh karena terus menerus terdesak, maka pada tanggal 29 April 1945 Jepang memberikan janji kemerdekaan yang kedua kepada bangsa Indonesia, yaitu janji kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura)

Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan BPUPKI. Tugas badan ini adalah menyelidiki dan mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk dapat dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia.


Dalam sidang BPUPKI pertama, yang dibicarakan khusus mengenai calon dasar Negara. Bung Karno mengusulkan calon dasar negara untuk Indonesia merdeka dalam pidatonya, yang terdiri atas lima hal, ialah :

1. Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)

2. Internasionalisme (Perikemanusiaan)

3. Mufakat atau Demokrasi

4. Kesejahteraan Sosial

5. Ketuhanan yang Berkebudayaan

Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila.

BPUPKI terdiri dari sekitar 60 tokoh penting bangsa Indonesia dari berbagai lapisan masyarakat. Di antaranya terdapat nama-nama Dr. Radjiman Wediodiningrat, Ki Hadjar Dewantara, Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Wahid Hasyim, dan K.H. Masykur.

Usulan Bung Karno mengenai dasar negara itu mendapat sambutan hangat dari para anggota BPUPKI. Setelah Bung Karno usai berpidato, Ki Hadjar Dewantara minta bicara dan beliau menganjurkan kepada seluruh sidang: "Saudara-saudara sekalian, mari kita terima seluruhnya apa yang diusulkan oleh Bung Karno ini." Padahal Ki Hadjar Dewantara sebelumnya mengusulkan beberapa dasar negara yang lain.

Usulan Bung Karno tentang dasar negara ini, setelah melalui beberapa kali pembahasan, akhirnya melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI (Dokuritu Zyunbi Iin Kai) tanggal 18 Agustus 1945 disahkan menjadi dasar negara Republik Indonesia. Kalau ditinjau secara hukum, pengesahan ini dilakukan karena dicantumkan di dalam Pembukaan Undang - Undang Dasar Tahun 1945 (UUD-1945) sebagai konstitusi negara pada aleinea IV.


Istilah Lahirnya Pancasila

Istilah Hari “Lahirnya Pancasila” timbul karena Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1946 mengusulkan kepada Bung Karno agar pidato beliau tanggal 1 Juni 1945 ditulis dalam sebuah teks yang lengkap dan diterbitkan menjadi buku. Setelah langkah itu final beliau bertanya kepada Bung Karno, buku ini sebaiknya diberi judul apa? Bung Karno Menjawab “beri saja judul Lahirnya Pancasila”! Sejak masa itulah tanggal 1 Juni diberi arti sebagai Hari “Lahirnya Pancasila”.

Dari nukilan sejarah di atas, jelaslah bahwa Ki Hadjar Dewantara memiliki peran besar dan sangat penting atas terwujudnya Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Hal itu setidaknya tampak dalam menyikapi pidato Bung Karno yang bersisi substansi Pancasila, dan istilah lahirnya Pancasila serta penetapan 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Tidak salah kiranya jika setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila.



Momentum Rekonsiliasi

Setiap peristiwa pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Demikian halnya dengan Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2010 ini. Seorang jurnalis surat kabar bahkan menggambarkannya dengan sangat dramatis. “Peringatan hari lahir Pancasila ke-65 pada 1 Juni 2010 , berlangsung sungguh hikmah dan perlu untuk diacungi jempol karena ditandai dua momentum yaitu, dalam bidang pemerintahan dan politik”.

Dalam bidang pemerintahan satu langkah maju yang di tempuh oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyampaikan pidato khusus untuk memperingati hari lahir Pancasila dasar negara Republik Indonesia tersebut. Inilah untuk pertama kali seorang presiden Republik Indonesia memberikan pidato khusus Peringatan Hari Lahir Pancasila sejak pemerintahan orde baru tumbang.

Dalam dimensi politik, peringatan hari lahirnya Pancasila menjadi momentum rekonsiliasi antar tokoh-tokoh nasional pemimpin bangsa. Betapa tidak, dalam pidatonya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung menyapa dan mengucapkan terimakasih kepada mantan Presdien ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri. Selama ini kedua tokoh nasional ini selalu berseberangan bahkan cenderung mengarah ke “perang dingin.” Jarang, sebuah acara dihadiri oleh kedua tokoh ini. Meski acara upacara kenegaraan peringtan detik-detik proklamasi sekalipun misalnya.

Bagi rakyat kebanyakan, peristiwa tersebut adalah sesuatu yang sangat baik, setidaknya sebagai suri tauladan hidup untuk saling menghormati dan saling menghargai. Meski beda pendapat sekalipun, hendaknya sikap saling menghargai dan saling menghormati tidak terhalang olehnya. Cara-cara hidup yang demikian tentu akan berdampak timbulnya rasa tenteram dan damai sebagai digambarkan oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai masyarakat yang tertib damai atau tata tentrem.

Hikmah lain yang dapat dipetik, hendaknya seluruh bangsa Indonesia benar-benar memperhatikan himbauan Presiden dalam pidatonya. “Sudah cukup kiranya mempermasalahkan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Republik Indonesia”. Hal ini berarti bahwa mempersoalkan Pancasila sebagai
ideologi dan dasar Negara adalah perbuatan percuma yang tidak berarti. Faktanya Pancasila adalah kontrak sosial sebuah bangsa yang bersifat final.


Di lingkungan satuan pendidikan, tugas selanjutnya ialah memantapkan penanaman nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik. Paling tidak setiap hari Senin dalam upacara bendera di Sekolah akan terdengar peserta upacara menirukan pembacaan teks Pancasila oleh Pembina Upacara.

Demikianlah, tidak sia-sia memiliki Pancasila sebagai ideologi dan dasar Negara bagi bangsa Indonesia. Sudah sepantasnya disyukuri dan tidak diingkari. Semoga.-