Laman

Rabu, 16 Juni 2010

Pendidikan Ketamansiswaan

REFLEKSI HARI PENDIDIKAN NASIONAL DAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL DI ERA REFORMASI
Meneladani Ki Hadjar Dewantara
Oleh : Ki Sugeng Subagya

Bulan Mei memiliki arti penting bagi sejarah bangsa Indonesia. Bulan Mei dapat kita sebut sebagai bulan perjuangan, pergerakan dan reformasi. Karaena pada bulan Mei bangsa Indonesia memperingati dua peristiwa bersejarah, yang akhirnya membawa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka bangsa yang memiliki martabat. Peristiwa penting yang setiap bulan Mei kita peringati adalah Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei, karena pada tanggal itulah lahir seorang pejuang besar bernama Ki Hadjar Dewantara.

Masih pada bulan yang sama tepatnya tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. karena pada tanggal itulah lahir sebuah organisasi atau perkumpulan yang bernama Budi Utomo. Organisasi ini lahir karena didorong oleh kesadaran yang tinggi dari kaum muda terpelajar yang ingin membebaskan diri dari belenggu penjajah. Walaupun disana sini masih sangat kental akan sifat-sifat kedaerahan, namun kelahiran Budi Utomo menandai babak baru bangkitnya kesadaran nasional.

Tidak hanya pada masa pra-kemerdekaan saja yang menjadikan bulan Mei sebagai bulan perjuangan, pergerakan dan reformasi. Pasca kemerdekaan, bulan Mei juga diisi oleh peristiwa bersejarah lain, yang tak lain dan lagi-lagi melibatkan pemuda di dalamya. Tentu masih sangat jelas dalam ingatan kita, terjadinya tragedi 1998 yang menuntut pemerintahan Orde Baru agar melakukan reformasi total di bidang politik, ekonomi dan hukum.

Dalamrangka menyongsong bulan Mei dan dengan maksud pula untuk memperingati tiga peristiwa bersejarah sekaligus, sehari sebelum bulan April 2010 berakhir, penulis hadir sebagai pembicara dalam sebuah forum sarasehan pemerhati pendidikan dan kebudayaan. Tema besar yang diangkat dalam forum sarasehan itu, ialah Meneladani Ki Hadjar Dewantara dan Menyongsong Kebangkitan Kembali Pendidikan Nasional Dalam Era Revormasi.

Ada baiknya jika, butir-butir sarasehan itu dirangkum dalam tulisan untuk diterbitkan Majalah SISWA yang kita cintai ini. Disamping untuk dipetik manfaatnya, sekaligus menggali mutiara-mutiara pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk diangkat kembali di permukaan. Tidak sedikit mutiara-mutiara pemikiran beliau yang sampai saat ini masih sangat relevan.

Dasar berpijak tulisan ini sesungguhnya merespon pertanyaan seorang peserta sarasehan. “Apa yang dapat diteladani dari Ki Hadjar Dewantara untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa sekarang ini ? Misalnya kasus penggelapan pajak, mafia hukum, korupsi, dll. ?”

Pertanyaannya mudah, tetapi susah menjawabnya. Oleh karenanya untuk menjawab pertanyaan yang susah dijawab itu penulis mencoba memulainya dari menempatkan Ki Hadjar Dewantara sebagai sosok teladan, pelopor, dan penyemangat mengatasi persoalan aman. Penulis mencoba membalik ceritera riwayat hidup sebagaimana lazimnya ketika dilahirkan. Tetapi dikisahkan dari penghargaan yang diterima Ki Hadjar Dewantara sesaat setelah beliau wafat.

Satriya Pinandhita
Sesaat setelah Ki Hadjar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959, penghargaan dari masyarakat sungguh luar biasa. Penghargaan itu berupa pernyataan, sikap, dan perilaku dalam berbagai bentuknya. Tidak hanya perorangan, lembaga, kantor, perusahaan, bahkan sampai dengan negara memberikannya. Satu hal yang sangat berkesan, ialah perwujudan duka cita mendalam dari ratusan ribu pelayat yang memenuhi rumah duka di Muja Muju, kompleks Pendopo Agung Tamansiswa, sepanjang jalan dari Wirogunan sampai Taman Makam Wijayabrata di Celeban. Mereka memberikan penghormatan terakhir dengan iklas tanpa paksa.

Perhatian yang sangat besar dari seluruh lapisan masyarakat terhadap wafatnya Ki Hadjar Dewantara oleh karena jasa-jasa beliau yang sangat besar terhadap bangsa dan negara Republik Indonesia.

Setidaknya, jasa besar Ki Hadjar Dewantara yang paling menonjol ialah gigih berjuang “memintarkan” rakyat Indonesia, dan sekaligus “mengenyahkan” penjajahan dari tanah Indonesia. Kebesaran jasanya tergambarkan sebagai satriya pinandhita.

Sebagai satriya pinandhita, perjuangan Ki Hadjar Dewantara melawan penjajah tidak diaktualisasikan dengan memanggul senjata bertempur di medan perang. Alat perjuangannya adalah kedewasaan berpikirnya berdasar logika dan panduan rasa. Alat yang demikian bukan didapat di pabrik messiu atau di gudang senjata, melainkan dalam wahana pendidikan.

Kesewenang-wenangan penguasa kolonial dalam bentuk pembatasan hak-hak rakyat tiadalah mungkin dilawan dengan senjata berpeluru. Hanya dengan kedewasaan berpikir logis dipandu oleh rasa, maka kesewenang-wenangan itu dapat diruntuhkan. Pemberlakuan Onderwijs Ordonantie 1932 (OO ‘32) sebagai contohnya.

OO ’32 adalah upaya mempersempit gerak langkah sekolah-sekolah partikelir yang saat itu sedang berkembang pesat untuk memintarkan rakyat pribumi. Jika tetap diberlakukan, bukan tidak mungkin upaya mencerdaskan rakyat untuk melawan penjajahan akan gagal. Ki Hadjar Dewantara dan Perguruan Tamansiswa memelopori penentangan terhadap pemberlakukan OO’32 itu. Tentu tidak sendirian, di belakangnya berbaris rapi segenap organisasi kegamaan, kebudayaan dan politik memberikan dukungan.

Dalam pandangan filosofis Ki Mohammad Said Reksohadiprodjo, sifat satriya pinandhita digambarkan sebagai sifat seorang pemimpin utama. Ialah sifat seorang pemimpin yang tidak menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya. Betapa tinggipun kedudukannya, ia tidak akan menggunakan aji mumpung berbuat menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya di atas penderitaan orang lain.

Sebagai satriya, ia adalah pemimpin yang berdiri tegak dalam topangan keadilan sejati. Berlaku adil sekaligus menegakkan keadilan, menegakkan keadilan dengan berlandaskan kebenaran. Itu semua dimaksudkan untuk tertib-damainya kehidupan bersama dan aman-sejahteranya kehidupan masyarakat.

Sebagai pandhita, ia adalah pemimpin yang tidak menggantungkan kebahagiaan hidupnya dari ukuran semat (harta), derajat (tahta atau kedudukan), kramat (kuasa), dan apalagi asma (nama). Ia memelihara gairah hidupnya tanpa ambisius, mengabdi dengan sepi pamrih rame ing gawe, dan memahami bahwa pengabdiannya adalah sesuatu hal yang memang harus dilakukan dengan tanpa mempertimbangkan untuk menjadi hebat, istimewa, terpuji, dah bahkan dikagumi.

Demikianlah Ki Hadjar Dewantara. Beliau adalah sosok yang melebihkan usaha daripada bicara. Menempatkan harga dirinya atas rasa percaya akan kekuatannya sendiri. Sebagai perwira yang berani dan bijaksana, sebagai prajurit yang berani dan setia. Menanggalkan gelar kebangsawanannya, jika ternyata gelarnya itu dirasa dapat menghalanginya berbaur dengan rakyat. Semuanya itu dipersembahkan untuk kepentingan rakyat dengan tidak mengambil keuntungan sedikitpun untuk diri dan keluarganya.

Refleksi
Akhir-akhir ini bangsa Indonesia tampak sedang dalam kekosongan kepercayaan atas tegaknya keadilan berlandaskan kebenaran. Putusan hukum yang seharusnya sebagai intrumen penegakkan keadilan telah dianggap sepi oleh karena landasan kebenarannya telah diingkari. Meskipun rumusan instrumen hukumnya sama, namun jika penafsirannya tidak lagi berlandaskan kebenaran, maka pengambil keputusan sebagai pengadil tidak lagi dapat berlaku satriya pinandhita. Salah satu contoh mutakhir adalah kerusuhan Koja. Kepentingan bermuatan pamrih telah menenggelamkan keampuhan hukum sebagai instrumen penegak keadilan.

Seorang satriya pinandhita, tidak sama sekali meremehkan kehidupan jasmaniah lahiriah, namun ia juga tidak pula mengejar kekayaan, kekuasaan, kedudukan, dan kemashuran. Kebahagiaannya tidak tergantung kepada orang dan benda, keadaan dan kejadian, namun diukur dari cara menilai atas keadaan yang dihadapi. Kekayaan bukan diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi diukur dari seberapa besar yang ia bisa berikan secara iklas tanpa pamrih.

Kekuasaan, kedudukan, dan harta kekayaannya akan dilepaskannya daripada harus menjadi pengkhianat bangsa, integritas pribadinya menjadi korban, dan harga dirinya jatuh di mata masyarakat. Dalam hal yang demikian ini yang oleh Ki Hadjar Dewantara dirumus sebagai ing ngarsa sung tuladha. Memimpin di depan dengan keteladanan yang bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme, dan penyelewengan.

Keteladanan jauh lebih efektif untuk memberantas korupsi daripada tindakan preventif (misalnya : renumerasi) dan represif (misalnya : proses hukum). Tindakan preventif dan represif semacam itu tanpa keteladanan dari para pemimpinnya, maka tidak lebih hanya akan menjadi lelucon belaka.

Ujian Nasional

Kelulusan vs Kejujuran

Oleh : Ki Sugeng Subagya

Setelah hasil UN diumumkan, diketahui kelulusan UN di DIY turun drastis. SMA/MA dan MA/MAK dari 93.30 persen pada tahun 2008/2009 menjadi 76.30 persen di tahun 2009/2010. Tingkat SMP/MTs dari 93.46 persen pada tahun 2008/2009 menjadi 78.01 persen di tahun 2009/2010. Banyak pihak curiga hasil buruk karena jujur.


Tidak bijak menyikapi hasil UN yang demikian dengan cara yang berlebihan. Tetapi juga tidak keliru kiranya jika banyak pihak merasa jengah dan kemudian mengutarakan kekagetannya dengan mengajukan pertanyaan, sudah seburuk itukah pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang konon menyandang predikat daerah tujuan pendidikan terkemuka ?

Jika hasil UN dianggap menggambarkan kualitas pendidikan yang sesungguhnya, maka sepantasnya seluruh stackholder pendidikan di DIY melakukan introspeksi dan evaluasi diri.


Jika hasil UN dianggap tidak menggambarkan kualitas pendidikan yang sesungguhnya, lalu apa yang terjadi dengan penyelenggaraan UN yang selama ini masih menjadi bahan perdebatan panjang itu ? Banyak kecurigaan muncul, setidaknya faktor kejujuran yang selama ini selalu meningkat untuk Provinsi DIY telah menjadi bumerang.

Dalam teori pendidikan sistematis, kualitas out-put pendidikan akan sangat tergantung kepada kualitas in-put dan proses. Jika komponen in-put dan proses pendidikan di DIY dirasakan telah berfungsi optimal, maka hasil yang buruk tentu disebabkan oleh faktor lain.


Menurut Menteri Pendidikan Nasional, diduga turunnya hasil UN diduga oleh karena semakin ditekannya kecurangan penyelenggaraan UN. Data pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional menunjukkan bahwa tingkat kejujuran penyelenggaraan UN di DIY paling baik. Maka berdasarkan dua hal tersebut dapat diasumsikan, tingginya tingkat kejujuran penyelenggaraan UN berbanding terbalik dengan persentase kelulusan. Jika asumsi ini benar, maka DIY seharusnya tetap berbangga hati. Bukankah kejujuran adalah ruh pendidikan yang paling esensial ?


Dengan tidak bermaksud menuding pihak lain melakukan kecurangan, perlu dikaji apakah daerah-daerah yang tingkat kelulusannya tinggi berbanding lurus dengan tingkat kejujuran penyelenggaraannya. Jika benar, maka terbantahkan asumsi yang menyatakan rendahnya hasil UN karena tingginya tingkat kejujuran. Dan untuk itu, mereka yang berhasil mencapai angka kelulusan yang tinggi patut diberikan apresiasi. Tetapi jika tidak, ini semua adalah “musibah” bagi DIY, amenangi jaman edan, uwong jujur malah ajur mumur.

Bukan yang Pertama

“Jeblok”nya hasil UN di Daerah Istimewa Yogyakarta sesungguhnya bukan untuk yang pertama. Berdasar catatan penulis, pada tahun 2004/2005 hasil UN di DIY pernah mencatat kelulusan hanya 77.40 persen untuk SMA/MA, MA/MAK dan 86.47 untuk SMP/MTs pada tahun 2005/2006. Meskipun rendah, masih sedikit lebih tinggi daripada tahun 2009/2010 ini.


Ada perbedaan fenomena antara kelulusan tahun 2004/2005 dan 2005/2006 dengan 2009/2010. Salah satu diantaranya adalah persebaran siswa tidak lulus. Pada tahun 2004/2005 dan 2005/2006 jumlah peserta tidak lulus didominasi oleh sekolah-sekolah swasta dan sekolah negeri pinggiran. Sedangkan sekolah-sekolah negeri dalam kota dan sekolah-sekolah negeri favorit lainnya rata-rata meluluskan siswanya 100 persen. Pada tahun 2009/2010 ini siswa yang tidak lulus merata hampir di setiap sekolah baik negeri maupun swasta. Tidak terkecuali sekolah berstatus RSBI sekalipun ada siswanya yang tidak lulus UN. Perbedaan fenomena ini perlu mendapat kajian lebih mendalam untuk diketahui sebab musababnya.


Upaya bangkit dari keterpurukan atas hasil UN tahun 2004/2005 dilakukan dengan sangat baik. Sekolah, bersama dengan pihak terkait saat itu bahu membahu memberikan dorongan dan dukungan persiapan UN. Intensifikasi pembelajaran, menyelenggarakan pembelajaran tambahan dan ujicoba UN adalah bentuk-bentuk upaya yang dilakukan saat itu. Gerakan ,menyusun bank soal dan sistematisasi koreksi hasil ujicoba dengan teknologi scanner adalah contoh upaya strategis. Ada banyak sekolah yang tidak mampu dalam pengadaaan bank soal dan scanner difasilitasi sekolah yang telah memilikinya. Dalam konteks ini sistem syster school dalam arti yang sebenarnya telah terimplementasi dengan baik.


Mengingat hasil UN tahun ini tidak sesuai harapan, mungkinkah strategi yang pernah dilakukan itu tidak tepat lagi, sehingga perlu dibuat strategi baru ? Itulah pekerjaan besar seluruh pemangku kepentingan pendidikan di DIY saat ini.


Fenomena lain yang juga menarik ialah, mulai bergesernya dominasi perolehan rata-rata nilai hasil UN. Jika biasanya Kota Yogyakarta selalu berada di papan atas, sejak 3 tahun lalu telah digeser oleh Kabupaten Bantul. Lebih mengejutkan lagi pada tingkat SMP/MTs, ternyata Kabupaten Gunungkidul yang biasanya berada pada juru kunci, sejak 2 tahun lalu menyodok ke peringkat ke-3, bahkan pada tahun 2009/2010 ini mampu berada pada posisi ke-2.


Ada hikmah yang dapat dipetik dari fenomena ini. Dapat diansumsikan bahwa pemerataan kualitas pendidikan, jika hasil UN dianggap sebagai tolok ukur mutu pendidikan, telah terjadi di DIY. Hal ini sangat baik untuk pemetaan, sebab potensi daerah akan dimanfaatkan secara maksimal oleh daerah yang bersangkutan untuk memberikan jaminan mutu pendidikan bagi masyarakat. Hanya, yang perlu diperhatikan, pemerataan mutu pendidikan harus diupayakan sekaligus dengan peningkatan. Pemerataan tidak akan berarti apapun apabila bukan karena peningkatan, melainkan karena pesaingnya mengalami penurunan. Semoga.-

Adiluhung

Kautaman ing Serat Trilaksita

Dening : Ki Sugeng Subagya


Duk ing uni, senadyan mboten kondhang kados dene Ranggawarsita, Jasadipura, punapa dene pujangga-pujangga sanesipun, Kraton Surakarta gadhah abdi dalem ingkang ugi wasis nyerat. Inggih punika Mas Ngabehi Mangunwijaya. Ing taun 1916, penjenenganipun nganggit serat ”Trilaksita” ingkang dipun terbitaken dening Volkslectuur, Weltevreden. Serat punika namung awujud karangan fiksi ingkang mboten wonten kedadosan yektinipun, semantena ngemot piwulang luhur tumraping bebrayan utaminipun panggulawenthah wulang wuruk.


Dipun cariyosaken ing serat punika, kawontenaning gesang saha panggesanganipun paraga tiga ingkang nama Raden Hardaka, Jaka Madyana, saha Jaka Mulyana. Tetiga taruna punika makarya ing bebadan peprentahan kabupaten ingkang sami. Semantena gesang saha panggesanganipun mboten sami ing antawisipun setungal lan setunggalipun. Sedaya wau kedadosan karana sanguning gesang ingkang benten saha watak wantu budi pekerti ingkang mboten tuwuh. Wusana, paraga ingkang setunggal kejeblos ing comberan kanisthan, paraga ingkang angka kalih gesang limrah sakmadya, lan paraga ingkang pungkasan saged mancik ing tataran kautaman gesang saha panggesanganipun.


Kacariyos Raden Hardaka, pinangka paraga sepisan, putranipun Raden Tumenggung Setianegara, sanget dipun ugung dening ramanipun ingkang anjawat bupati. Gesang sarwa sarwi sekeca, ingkang dipun kersakaken tansah wonten, mahani dados lare ingkang keset sinau saha patrapipun klelat-klelet njuwarehi. Ugungan ndadosaken patrapipun Raden Hardaka deksura, kumingsun, saha ugal-ugalan. Sak surutipun ingkang rama, kalenggahan bupati dipun asta raka pembayunipun. Sewaunipun Raden Hardaka ndherek ingkang raka. Amit saking raos pekewuh, Raden Hardaka sedya misah saking ingkang raka, suwita dhateng ingkang paman ingkang ugi anjawat bupati, asma Raden Tumenggung Kartipradja.


Paraga ingkang angka kalih inggih Jaka Madyana. Wiranem saking padesan anakipun setunggaling guru ngaji. Sareng sampun ngancik yusma kalih windu, ndherek bapa pamanipun ingkang anjawat wedana, asma Gunasaraya. Sedyanipun Gunasaraya, tembe Jaka Madyana dipun dherekaken magang supados dados priyayi. Sedya wau saged kasembadan karana ingkang piyambakipun ginulang ing kawruh tata kaprajan lan pepentrahan. Emanipun, Jaka Madyana sok kalimput, kekudhung dhumateng kalenggahanipun wedana Gunasaraya. Kejawi punika karemenanipun tetanen saha nyinau ngelmu agami mboten saged dipun uwalaken.


Paraga ingkang angka tiga inggih Jaka Mulyana. Wiranem punika senadyan dedunung ing padesan ananging temenipun putra satunggaling bupati saking garwa selir. Wiwit timur, gesang saha panggesanganipun lumampah kanthi prihatos. Adrenging manah, ing tembe sedya gesang ingkang langkung sekeca. Pambudidaya nggegulang ngelmu katuranggan lan kawaskithan dipun sengkut. Sinengkuyung dening ingkang ibu, pangertosan saha kawegiganipun langkung pinunjul tinimbang lare-lare sanes ingkang sami yuswanipun. Seni tari, tembang, sastra Jawa, basa Melayu, basa Walandi, lan nabuh gangsa dipun pratitisaken. Kepara lumampah tebih saking papan dunungipun namung sedya tumut kursus. Serat-serat ajipamasa, panitisastra, panitisruti, wulang reh, sana sunu, lan wedharaga dipun sinau saestu.


Ringkesing cariyos, tetiga wiranem kalawau saksampunipun ngancik yuswa diwasa sedya suwita dhateng Bupati Kartipradja. Tinampi pasuwitanipun pinurwakan dados magang.


Wejangan

Bidhalipun wiranem tetiga saking papan dunungipun piyambak-piyambak tumuju ing kabupaten, dipun sangoni wejangan dening tiyang sepuhipun. Raden Hardaka dipun wejang dening ingkang raka. Jaka Madyana dipun wejang dening ingkang paman. Jaka Minulya dipun wejang dening ingkang ibu.

Mesthi kemawon isi lan cara mejangipun ing antawis setunggal lan setunggalipun mboten sami. Namung wos ingkang dipun wejangaken wonten emperipun. Umpaminipun, tiyang ingkang suwita ing peprentahan sampun ngantos gadhah penganggep bilih piyambakipun pinangka priyagung, senadyan suwitanipun dhateng sedherek piyambak. Kejawi punika, suwita mekaten kedah dipun tegesi ngawula ingkang kumawula. Sikep kumawula linambaran dening guna, sarana, sekti, wani, lan miturut. Patrapiun linambaran taberi, setiti, ngati-ati, sregep, temen, lan tumemen.

Patrap ingkang kedah dipun awisi dening tiyang ingkang suwita inggih punika, nistha, dustha, culika, dora, drengki, srengkara, lan candhala. Kejawi punika kedah ugi ngawisi kebluk, lebuh, blubuh, kethuh, bariwah, wuru, ulah mbandrek, lan anjejamah. Nilaraken madat, minum, main, madon, lan maling saestu pakarti ingkang sakalangkung minulya.


Kautaman

Wangsul dhateng lajering cariyos serat Trilaksana. Gancaring cariyos, anggenipun sami magang sampun purna. Pramila lajeng katetepaken dados abdi dalem ing kabupaten kartipradjan.


Jaka Mulyana, karana sangu kawegigan, kesagedan, lan bontos ing kawruh, pramila laju inggahing pangkatipun lumintir. Kawiwitan dados mantri, lajeng asisten wedana, wedana, patih, ngantos dados bupati.

Wondene Raden Hardaka lan Jaka Madyana ugi minggah pangkatipun ngantos asisten wedana. Parandene, karana raden Hardaka gesang lan panggesanganipun ingkang ugal-ugalan, patrapipun kumingsun, deksura, lan nglampahi main, madat, minum, madon, lan maling, wusana kalenggahan asisten wedana kapocot.

Jaka Madyana, ingkang wiwit sekawit estu nggegulang ing babagan tetanen lan ngelmu agami, pramila lajeng rumaos mboten trep ngasta ing peprentahan. Wusana lajeng nyuwun lereh saking asisten wedana, wangsul dhateng ndhusun oleh tetanen lan mucal ngaji.


Kautaman ingkang saged dipun pethik saking cariyos serat Trilaksita, bilih tiyang punika minulya gesang lan panggesanganipun karana patrapipun. Tiyang padhe kajen keringan menawi patrapipun sae saha luhur budipekertinipun. Patrap lan luhuring budi gumantung dhumateng kalih prekawis, inggih punika “dhasar” utami wiji, lan “ajar” utawi panggulawenthah. Kekalihipun mboten ngawisi setunggal lan setunggalipun. Tegesipun “dhasar” mboten langkung wigati tinimbang “ajar”, semanten ugi kasakwangsulipun. Wijinipun sae, parandene mboten dipun gulawenthah kanthi sae, tangeh lamun badhe sae kedadosanipun. Semanten ugi, panggulawenthah ingkang sae, nanging wijinipun mboten sae, mboten saged dipun pesthekaken badhe sae pungkasanipun. Sumangga.

Pendidikan Ketamansiswaan

PENDIDIKAN BERBASIS PROSES :
Albert Einstein dan Ki Hadjar Dewantara

Oleh : Ki Sugeng Subagya

Apa persamaan antara Albert Einstein dan Ki Hadjar Dewantara ? Pertanyaan itu disampaikan oleh seorang akademisi bergelar Ph.D lulusan USA kepada penulis dalam sebuah forum diskusi terbatas sesaat setelah UN SMP tahun 2010 berakhir beberapa hari lalu.

Untuk menjawab pertanyaan itu, penulis agak kesulitan. Tentang Ki Hadjar Dewantara, penulis sedikit banyak tahu riwayat hidup dan kiprahnya dari membaca berbagai sumber dan informasi dari para sesepuh Tamansiswa. Nah, tentang Albert Einstein yang ilmuwan IPA hebat itu ? Penulis hanya tahu bahwa ia penemu Teori Relativitas dari pelajaran IPA ketika di SMP dulu. Atas keterbatasan pengetahuan itu, penulis mencoba berpikir keras (dalam Bahasa Jawanya ngulir budi). Berhasilkah menemukan jawaban ? Tidak.

Awal bulan April 2010, bertepatan dengan libur Paskah, secara tidak sengaja, penulis bertemu kembali dengan akademisi itu. Meskipun dengan nada yang lebih ringan, ditanyakan kembali apa persamaan Ki Hadjar Dewantara dan Albert Einstein. Kalimat pertanyaannya begini : “Mas, nggak usahlah ngaku jadi orang Tamansiswa jika belum mampu menjawab pertanyaan saya yang tempo hari itu ? Untuk membantu Mas Sugeng menemukan jawabannya, nih tak kasih tulisan tentang riwayat hidup Einstein dan pandangannya terhadap pendidikan.”

Didorong oleh kesungguhan untuk menemukan jawaban, penulis dalam waktu tidak lebih dari 2 kali 45 menit telah dapat membaca keseluruhan teks yang diberikan dan tentu isinya telah difahami. Dari situlah, penulis tahu bahwa Albert Einstein lahir di Ulm, Jerman pada tanggal 14 Maret 1879. Di kala muda tidak termasuk anak pintar, bahkan cenderung agak lambat dalam memahami matapelajaran Matematika. Tidak salah jika dikategorikan dalam kelompok anak bandel cenderung nakal. Memasuki dunia kerja tidak begitu serius. Di kantor lebih suka lonthang-lanthung bergaya sok intelek.

Keadaannya bagai berputar terbalik 180 derajat ketika menginjak usia dewasa. Bakatnya mulai tampak teraktualisasi. Kecerdasan dan kemampuannya mencuat seiring dengan kegemarannya merenung filsafat dan berpikir ilmiah. Dalam waktu yang tidak terlalu lama namanya dikenal luas di kalangan akademis oleh karena karya-karyanya. Tidak mengherankan jika pada tahun 1921, Albert Einstein memperoleh hadiah Nobel dalam bidang Riset.

Dari catatan itu pula penulis tahu, bahwa sesusungguhnya tidak hanya teori relativitas yang dikembangkan Alber Einstein. Ia juga menelaah secara mendalam teori efek fotolistrik, teori kuantum cahaya, mekanika kuntum, dan banyak lagi teori-teori fisika lainnya. Menakjubkan. Ternyata ia juga menulis tentang kebudayaan, kemanusiaan, seni, dan religi. Tentang kebudayaan, kemanusiaan, seni, dan religi inilah yang membawa Albert Einstein ke dalam suatu pemahaman bahwa hidup itu bersama dengan sesama, baik manusia maupun alam semesta.

Albert Einstein mengembangkan ilmu kimia, terutama energi nuklir. Berkat Einstein, energi nuklir merupakan kekuatan yang sangat dahsyat. Meskipun demikian, kekuatan yang dahsyat itu akan menghancurkan hidup dan kehidupan alam semesta jika tidak dikelola dengan bijak. Oleh karena itu Einstein berada dalam barisan yang paling depan sigap tiada henti-hentinya tak kenal lelah mengecam pemakaian teknologi nuklir dalam perang. Kedahsyatan energi nuklir tidak pada tempatnya untuk instrumen pembunuh dan penghancuran kehidupan. Energi nuklir justeru akan bermanfaat jika dipergunakan untuk tujuan damai dan kesejahteraan umat manusia.

Meskipun ia seorang intelektual, tetapi ternyata tidak intelektualistis. Meskipun ia seorang ilmuwan besar dunia, tetapi juga suka membaca puisi dan mengamalkan do’a-do’a. Sikap dan perilakunya selalu rendah hati, jika marah hanya tampak dalam diam. Menegur orang jarang menyakiti, sebab lebih memilih kata-kata sindiran daripada menohok di depan mata. Meja dan kamar kerjanya penuh kertas berserakan, itulah cara mengekspresikan kreatifitas dan inovasinya. Di balik itu semua, sesungguhnya Einstein adalah sosok yang hatinya lembut dan luwes penampilannya.

Karya besar yang monumental ditinggalkan Albert Einstein ketika pada tanggal 18 April 1955 meninggal dunia. Meski ilmuwan besar dunia, ia meninggal tidak di negeri tanah kelahirannya, Jerman. Sebagai akibat kekejaman rezim penguasa Hitler, Albert Einstein terpaksa “hijrah” ke USA.

Satu hal, secara khusus Albert Einstein memandang pendidikan bukan sebagai produk semata. Ia lebih suka jika pendidikan didominasi oleh proses, karena dengan demikian jika prosesnya baik maka hasilnya dapat diharapkan lebih baik.

Pembelajaran sebagai bagian pendidikan tidak bisa dipatok kaku. Terlebih jika orientasinya adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Sesungguhnya, kebenaran dalam pendidikan itu dibangun dalam kerangka dialektika keilmuan. Satu kebenaran akan terbantahkan oleh kebenaran yang lainnya. Demikian selanjutnya, sehingga kebenaran yang hakiki itu tidak terletak pada hasil, melainkan pada proses.

Sekolah, bagi Albert Einstein tridak sekadar mekanik penyampai segumpal pengetahuan. Pengetahuan itu barang mati, jika diterima apa adanya, maka akan terus matilah ia. Agar pengetahuan tidak terus mati, maka sekolah harus mampu memekarkan diri peserta didik untuk berpikir dialektis. Manusia yang sedang belajar itu bukan sedang menjalankan fungsinya seperti “baut” yang bertugas mengaitkan dua buah komponen atau lebih. Tetapi ia adalah pribadi. Ia adalah subyek atau pelaku.

Sebagai subyek, secara lahiriah ia berbuat. Secara batiniah, ia merenung, berpikir, menggagas, dan merasakan sesuatu. Itulah sesungguhnya aktifitas subyek yang nampak dalam interpretasi terhadap berbagai soal kehidupan dan masyarakat. Karena itu, dengan alasan apapun, jangan dicabut pribadi-pribadi peserta didik dari akar budayanya.

Secara tegas di tahun 1950, Albert Einstein mewajibkan sekolah harus mampu menghidupkan peserta didik. Oleh sebab pribadi peserta didik tidak dapat diukir oleh kata yang terucap dan didengar, tetapi juga dengan perbuatan. Demikian halnya, cita-cita luhur tidak dapat dicapai hanya dengan ungkapan kata-kata atau tulisan, tetapi berbuat untuk mencapai cita-cita itu lebih realistis.

Ketemu Jawabannya
Nah, dari membaca riwayat hidup dan pandangan Albert Einstein tentang pendidikan di atas, penulis dapat temukan jawaban pertanyaan tentang apa persamaan Albert Einstein dan Ki Hadjar Dewantara. Ialah, pandangannya tentang pendidikan berbasis proses.

Sekadar mengingatkan kita semua, menurut Ki Hadjar Dewantara, hakikat belajar sebagai proses itu adalah niteni, nirokke, dan nambahi. Oleh sebab itu, sekolah tidak boleh mengajarkan pengetahuan semata, tetapi harus membelajarkan siswa untuk mengembangkan dirinya. Guru seharusnya meninggalkan aktifitas mengajar, tetapi tugasnya adalah membelajarkan peserta didik. Peserta didik didorong untuk belajar menemukan sendiri atas hal-hal yang berfaedah bagi hidup dan kehidupannya. Itulah makna hakiki dari statemen Ki Hadjar Dewantara yang mengakatan; “pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidup lahir, sedangkan merdekanya batin didapat dari pendidikan”

Entah secara kebetulan atau tidak, ternyata antara Albert Einstein dan Ki Hadjar Dewantara juga memiliki persamaan yang lain. Diantaranya, ialah :
1. Beliau hidup sebagai generasi satu angkatan, kelahirannya hanya terpaut satu dasawarsa. Albert Einstein lahir pada tanggal 14 Maret 1879, sedangkan Ki Hadjar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mai 1889.
2. Semasa hidupnya merasa tidak nyaman atas keadaan negerinya sendiri oleh karena kekuasaan pemerintahan yang otoriter. Albert Einstein ditekan oleh kekuasaan Hitler dan kemudian hengkang ke USA, Ki Hadjar Dewantara ditekan oleh kekuasaan kolonial Belanda dan pernah dibuang ke negeri Belanda.
3. Keduanya meninggal pada bulan April. Albert Einstein meninggal pada tanggal 18 April 1955 sedangkan Ki Hadjar Dewantara meninggal pada tanggal 26 April 1959.

Jika pada saat ini, kita sedang membaca Majalah SISWA kesayangan kita ini, sekadar mengingat dan mengenang kembali kedua tokoh besar ini tepat pada bulan meninggalnya, dengan maksud memetik suri tauladannya. Selain itu, tentu mengenang orang besar tidak ada salahnya, terlebih jika kita memiliki kemauan yang keras untuk meneruskan cita-citanya. Semoga.-

Jumat, 26 Maret 2010

Ujian Nasional dan Perencanaan Pendidikan




Kekuatan atau Ketakutan ?

Oleh : Ki Sugeng Subagya

MOMEN ujian nasional (UN) diakui atau tidak, telah membuat banyak pihak cemas dan khawatir. Tidak hanya siswa peserta UN yang mengalaminya, tetapi juga guru, kepala sekolah, orangtua siswa, birokrat pendidikan, bahkan para pejabat penguasa wilayah. Semua itu bersumber dari apa yang disebut sebagai pemetaan mutu pendidikan yang disalahtafsirkan.

Sesungguhnya, pemetaan mutu pendidikan bukanlah hal yang negatif. Ia malah akan membantu pengambil kebijakan menyusun tata kelola pendidikan. Setidaknya, dengan mengetahui peta mutu pendidikan akan tersusun rencana pengembangan pendidikan yang lebih realistis.

Salah satu substansi diselenggarakannya UN ialah dalamrangka pemetaan mutu pendidikan. Sayang, konsep pemetaan mutu sebagaimana dimaksud tidak jelas. Akibatnya, pada level bawah, pemetaan difahami tidak lebih sebagai pemeringkatan. Sekolah A berada pada peringkat sekian di tingkat kabupaten/kota, dan sekian di tingkat provinsi serta sekian di tingkat nasional, berdasarkan rata-rata nilai UN yang diperoleh para siswamya. Pada umumnya, pemeringkatan itu dimaknai sebagai sebuah pengumuman. Untuk apa dan bagaimana tindak lanjutnya hampir tidak pernah difahami.

Celakanya, pengumuman yang demikian itu pada gilirannya tidak berdampak positif. Karena malu dan gengsinya bisa turun jika sekolah atau daerahnya berada pada peringkat rendah, maka segala daya upaya ditempuh. Guru, Kepala Sekolah, Dinas Pendidikkan, dan Penguasa Wilayah, akan melakukan tindakan apa pun agar sekolah atau daerahnya tidak berada pada peringkat papan bawah. Jika tindakan itu terpuji, tidak menjadi masalah dan itu hal yang baik dan patut diapresiasi. Sebaliknya jika tindakannya tidak terpuji, moral pendidikan akan menjadi taruhannya.

Guru mencari dan mengembangkan sebanyak-banyak trik dan taktik terbaik untuk menyiasati dalam menjawab soal UN. Orang tua pontang-panting memberikan ruang dan waktu kepada putra-putrinya untuk ikut bimbingan belajar dengan biaya yang tidak murah. Siswa dengan segala keunggulan dan sekaligus keterbatasannya dipaksa dirinya berhadapan dengan tingginya atmosfer persaingan. Pejabat pun tak kalah sibuk berkoordinasi dan mengeluarkan sejumlah kebijakan agar lembaga dan daerahnya bisa terangkat citranya lewat hasil UN. Pendek kata, UN telah menciptakan situasi yang memaksa para pemangku kepentinganpendidikan beradu strategi untuk mendapatkan hasil terbaik.

Tampaknya, inilah salah satu sebab UN dari tahun ke tahun selalu diwarnai kecurangan. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan Nasional membuktikan hal itu. Sebagai illustrasi, tingkat kejujuran penyelenggaraan UN dapat dikategorikan dalam wilayah hitam dan putih. Wilayah putih untuk menggambarkan tingkat kejujuran yang tinggi, dan wilayah hitam untuk menggambarkan tingkat kejujuran yang rendah. Sedangkan diantara kedua wilayah ada yang abu-abu, untuk menggambarkan ambivalensi antara jujur dan tidak jujur. Secara nasional baru sekitar 50 persen sekolah berada di wilayah putih, 20 persen di wilayah hitam, dan sisanya (kurang lebih 30 persen) berada dalam wilayah abu-abu.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan Provinsi dengan peringkat kejujuran terbaik secara nasional. Sekitar 65 sampai 75 persen menempati wilayah putih, dan hanya 5 persen yang berada di wilayah hitam. Ini berarti ada sekitar 20 sampai 30 persen yang berada di wilayah abu-abu. Dengan kondisi yang seperti ini dipastikan tingkat kejujuran penyelenggaraan UN di provinsi lain lebih rendah persentasenya.

Pemetaan mutu pendidikan yang tidak sekadar pemeringkatan jauh lebih bermakna. Dengan pemetaan yang berbasis kejujuran maka akan dikenali kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan bagi suatu lembaga, utamanya satuan pendidikan. Tanpa kejujuran kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan yang teridentifikasi dari sebuah lembaga malah menyesatkan. Dengan demikian teknik analisis SWOT yang disarankan Albert Humphrey, untuk mengimplementasi metode perencanaan strategis tidak dapat digunakan. Tanpa kejujuran, ternyata UN tidak mampu menunjukkan potensi kekuatan, tetapi malah menimbulkan ketakutan.

Untuk itu marilah kita renungkan, bisakah perencanaan pendidikan dianalisis potensinya hanya dari kepura-puraan. Jika ini yang terjadi sampai kapanpun niscaya kualitas pendidikan kita tidak akan pernah baik sebagaimana yang kita harapkan. Tanpa didasari kejujuran, UN tidak akan ada gunanya. Hal itu berarti kita telah menghambur-hamburkan banyak sekali sumberdaya dan sumber dana. Mubazir !!

Ki Sugeng Subagya,

Pamong Tamansiswa, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan